Laporan OP -Oseanologi Pendahuluan-

•Juni 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

LAPORAN PRAKTIKUM

OSEANOLOGI PENDAHULUAN

PENGAMATAN DAERAH MUARA

SUNGAI JENEBERANG

NAMA                           : HILDAYANI

NIM                               : H41107025

KELOMPOK                 : III (TIGA)

TGL. PERCOBAAN      : 22 MEI 2008

ASISTEN                       : NUR INSANA IMANIAR

LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2008

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Lautan merupakan suatu tempat mata pencaharian bagi orang-orang Asia Tenggara yang telah berumur berabad-abad lamanya. Tidak dimana pun juga hal ini benar-benar dapat dilihat di Indonesia di mana negara ini terdiri dari lebih kurang 13.000 pulau yang tersebar. Sejak dahulu lautan telah memberi manfaat kepada manusia untuk dipergunakan sebagai suatu sarana untuk bepergian, perniagaan, dan perhubungan dari suatu tempat ke tempat lain (Hutabarat dan Evans, 1985).

Indonesia sendiri merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau yang membentang 5.120 km dari timur ke barat sepanjang khatulistiwa dari 1.760 km dari utara ke selatan. Di lain pihak arah pembangunan nasional yang selama ini lebih berorientasi ke arah daratan yang menyebabkan terabaikannya potensi dan keberadaan sumberdaya laut terutama sumberdaya hayati sehingga pulau-pulau kecil yang berjumlah lebih dari 10.000 buah selama ini kurang mendapat sentuhan pembangunan karena sumberdaya alam daratannya sangat terbatas. Padahal dilihat secara fisik, kawasan perairan pulau kecil justru memiliki sumberdaya kelautan yang melimpah yang dapat dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata bahari (Litaay, dkk, 2008).

Bagaimanapun juga efisiensi dalam mengelola sumber-sumber alam akan sangat bergantung kepada pengetahuan dan pengertian tentang lautan itu sendiri. Sayangnya, lautan merupakan suatu bahan penelitian yang kurang diperhatikan bila dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan di daratan. Maka berdasarkan hal inilah  dilakukan pengamatan  ini.

I.2 Tujuan percobaan

Adapun tujuan dari pengamatan ini antara lain:

  1. Untuk mengetahui keadaan fisik, kima, dan biologi daerah muara Sungai Jeneberang.
  2. Untuk mengetahui salinitas air laut dari Sungai Jeneberang dan organisme-organisme yang hidup di sekitarnya.

I.3 Waktu dan Tempat

Pengamatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Mei 2008, pukul 10.00 – 12.00 WITA, bertempat di daerah muara sungai Jeneberang, pantai Barombong, Makassar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Laut merupakan kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas yang terlarut, bahan-bahan organik, dan partikel-partikel tidak terlarut. Sifat-sifat fisis air laut ditentukian oleh 96,5% air murni (Tim Dosen, 2008).

Ciri paling khas pada air laut yang diketahui semua orang ialah rasanya yang asin. Ini disebabkan karena di dalam air laut terlarut bermacam-macam garam, yang paling utama adalah raram natrium klorida (NaCl) yang sering pula disebut garam dapur. Selain garam-garam klorida, di dalam laut terdapat pula garam-garam magnesium, kalsium, kalium dan sebagainya. Dalam literature oseanologi dikenal istilah salinitas yang maksudnya ialah jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air (Nontji, 1993).

Konsentarsi garam-garam ini jumlahnya relative sama dalam setiap contoh-contoh air laut, sekalipun air laut diambil dari tempat yang berbeda diseluruh dunia. Oleh karena itu tidak perlu mengukur seluruh salinitas dari setiap contoh-contoh air laut, dalam hal ini cukup menghitung salinitas panda satu daerah saja dan dari hasil pengukuran ini dapat dipakai untuk menentukan salinitas dari daerah-daerah yang lain (Tim Dosen, 2008).

Diperairan samudra, salinitas biasanya berkisar antara 34-35‰. Diperairan pantai karena terjadi pengenceran, misalnya karena pengaruh aliran sungai, salinitas biasanya turun rendah. Sebaliknya di daerah dengan penguapan yang sangat kuat, salinitas biasanya meningkat tinggi. Air payau merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyatakan air yang salinitasnya antara air tawar dan air laut. Ada berbagai cara dan istilah yang digunakan untuk memberi nama air berdasarkan salinitasnya. Salah satu misalnya menurut Valikangas dapat disederhanakan seperti air tawar (0-0,5‰), air payau (0,5-17‰) dan air laut (lebih dari 17‰) (Nontji, 1993).

Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine. Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil pengendapan oleh air laut, antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang pantai. Pesisir merupakan wilayah pengendapan di sepanjang pantai, biasanya terdiri dari material pasir (anonim, 2005).

Ukuran dan komposisi material di pantai sangat bervariasi tergantung pada perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut. Arus pantai mengangkut material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjadi perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material material ke laut yang dalam. Ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi pengendapan material. Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas permukaan laut. Akumulasi material itu disebut spit. Jika arus pantai terus berlanjut, spit akan semakin panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati teluk dan membetuk penghalang pantai atau barrier beach (anonim, 2005).

Perubahan salinitas mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, sehingga ikan melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik internalnya agar proses fisiologis di dalam tubunhnya dapat bekerja secara normal kembali. Apabila salinitas bertambah tinggi, ikan berupaya terus agar kondisi homeostasis dalam tubuhnya tercapai, hingga panda batas toleransi yang dimilikinya. Kerja osmotik itu memerlukan energi yang lebih tinggi pula. Hal tersebut juga berpengaruh kepada waktu kenyang (satiation time) dari ikan  (Anonim, 2007).

Ada berbagai cara untuk menentukan salinitas, baik secara kimia maupun fisika. Salah satu alat yang paling populer untuk mengukur salinitas dengan ketepatan yang tinggi ialah salinometer yang bekerjanya didasarkan  pada hantar listrik. Makin besar salinitas, makin besar pula daya hantar listriknya. Selain itu telah dikembangkan pula  alat STD (Salinity-Temperature Depth Recorder) yang apabila diturunkan ke dalam air laut dapat dengan otomatis membuat kurva salinitas dan suhu terhadap ke dalaman di lokasi tersebut (Nontji, 1993).

Sebaran salinitas air laut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu (Tim Dosen, 2008):

a. Pola sirkulasi air

Pola sirkulasi air adalah gerakan mengalirnya suatu massa air. Pristiwa ini terjadi karena adanya angin, perbedaan densitas, gerakan gelombang dan adanya pasang surut. Akibat dari peristiwa ini dapat menyebabkan salinitas air laut meningkat atau menurun.

b. Aliran sungai

Daerah perairan yang dekat dengan muara sungai akan mempunyai kadar salinitas rendah karena adanya sejumlah air tawar yang berasal dari sungai mengalir ke laut.

c. Penguapan air

Pada musim panas dipermukaan air laut salinitasnya akan tinggi karena terjadi penguapan (jumlah air berkurang), contoh diperairan Laut Mediterania dan laut merah salinitasnya kadang-kadang mencapai 39-41, hal ini disebabkan karena banyaknya air yang hilang akibat dari besarnya penguapan yang terjadi pada waktu musim panas yang panjang.

d. Curah hujan

Pada musim hujan salinitas air laut akan menurun secara tajam karena besarnya curah hujan (jumlah air bertambah).

Dalam suatu proses sedimentasi, zat-zat yang masuk ke laut berakhir menjadi sedimen. Dalam hal ini zat yang ada terlibat proses biologi dan kimia yang terjadi sepanjang kedalaman laut. Sebelum mencapai dasar laut dan menjadi sedimen, zat tersebut melayang-layang di dalam laut. Setelah mencapai dasar lautpun , sedimen tidak diam tetapi sedimen akan terganggu ketika hewan laut dalam mencari makan. Sebagian sedimen mengalami erosi dan tersusfensi kembali oleh arus bawah sebelum kemudian jatuh kembali dan tertimbun. Terjadi reaksi kimia antara butir-butir mineral dan air laut sepanjang perjalannya ke dasar laut dan reaksi tetap berlangsung penimbunan, yaitu ketika air laut terperangkap di antara butiran mineral.

Di dalam lautan terjadi proses sedimentasi yang merupakan akumulasi dari mineral-mineral dan pecahan-pecahan batuan yang  bercampur dengan cangkang dan tulang dari organisme laut serta beberapa partikel lain yang terbentuk  lewat proses kimia yang terjadi di laut. Pettijohn (1975) mendefinisikan sedeimentasi sebagai proses pembentukan sedimen atau batuan sedimen yang diakibatkan oleh pengendapan dari material pembentuk atau asalnya pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan pengendapan berupa sungai, muara, danau, delta, estuaria, laut dangkal sampai laut dalam. Sedimen yang dijumpai di dasar lautan  berasal dari beberapa sumber yang menurut Reinick dibedakan menjadi empat yaitu (Widada, 2002):

a)       Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material       hasil erosi daerah up land.  Material ini dapat sampai didasar  laut melalui proses mekanik, yaitu tertransport oleh arus sungai atau arus laut dan akan terendapkan jika energi pentransport telah melemah.

b)       Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup seperti cangkang  dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi.

c)       Hidrogenous sedimen yaitu sedimen yangb terbentuk karena adanya reaksi kimia di dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak larut dalam air laut sehingga akan tenggelam ke dasar laut, sebagai contoh sedimen ini adalah magnetik, phosphorit, dan glaukonit.

d)       Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang berasal dari  berbagai sumber dan masuk ke laut melalui jalur media udara/angin. Sedimen ini dapat bersumber dari luar angkasa, aktivitas gunung api atau berbagai partikel darat yang terbawa angin.

Sedimen laut dalam dapat dibagi menjadi 2 yaitu sedimen terigen pelagis dan sedimen biogenik pelagis (Widada, 2002):

a. Sedimen Biogenik Pelagis

Dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa sedimen biogenik terdiri atas berbagai struktur halus dan kompleks. Kebanyakan sedimen-sedimen itu berupa sisa-sisa fitoplankton dan zooplankton laut. Karena umur organisme plankton hanya satu atau dua minggu, terjadi suatu bentuk hujan sisa-sisa sedimen. Pembentukan sedimen ini tergantung pada beberapa faktor lokal seperti kimia air dan kedalaman serta jumlah produksi primer di permukaan air laut. Jadi, keberadaan mikrofil dalam sedimen laut dapat digunakan  untuk menentukan kedalaman air dan produktivitas permukaan laut pada zaman dulu.

b. Sedimen Terigen Pelagis

Hampir semua sedimen terigen di lingkungan pelagis terdiri atas materi-materi yang berukuran sangat kecil. Ada dua cara materi tersebut sampai dilingkungan pelagis. Pertama dengan bantuan arus turbiditas dan aliran grafitasi. Kedua melalui gerakan es yaitu materi glasial yang di bawa oleh bongkahan es ke laut lepas dan mencair. Bongkahan es besar yang mengapung, bongkahan es kecil dan pasir dapat ditemukan pada sedimen pelagis yang berjarak beberapa ratus kilometer dari daerah gletser atau tempat asalnya.

TEKSTUR BATUAN SEDIMEN

Sebagian besar batuan sedimen dibedakan dari batuan lain karena tersusun oleh butiran hasil rombakan batuan lain yang lebih tua, butiran-butirannya mempunyai kontak tangensial yang membentuk lubang-lubang bila dilihat dalam rangkaian tiga dimensi (Anonim, 2007):

  1. Tekstur Klastik

untuk mendiskripsikan tekstur klastik kenampakan yang perlu diperhatikan adalah ukuran dan tingkat keseragaman partikel serta bentuk (Anonim, 2007):

  1. Ukuran dan tingkat keseragaman partikel

Ukuran butir sedimen merupakan faktor penting dalam penamaan batuan sedimen, klasifikasi yang digunakan biasanya adalah klasifikasi Wentworth. Tingkat keseragaman butir atau sortasi merupakan tingklat kopentensi dan efisiensi media pengangkutnya, di bedakan menjadi Very well sorted, Well sorted, Moderately sorted, Very poorly sorted.

  1. Bentuk

Dalam mendiskripsikan bentuk partikel, dua sifat harus dibedakan yaitu Spericity dan Roundness. Sphericity adalah pendekatan setiap individu partikel ke bentuk bola, sepenuhnya tergantung pada bentuk asli partikel, sedanglan abrasi merupakan faktor minor. Istilah deskriptif paling bagus dipakai untuk partikel pasir atau yang lebih kasar berdasarkan diameter maximum, minimum dan intermedit. Ada empat bentuk dasar yang dipakai yaitu equant, tabular, prolate, dan bladed.
Roundness adalah suatu ukuran adanya abrasi yang menyebabkan proses pembundaran pada sudut-sudut atau ujung-ujung fragmen. Istilah kualitas yang dipakai yaitu angular, subangular, subrounded, rounded, dan well rounded.
2.   Tekstur Non Klastik

Tekstur non klastik terutama dihasilkan oleh presipitasi kimiawi dan aktifitas organisme. Contoh-contoh batuannya adalah (Anonim, 2007):

  • Evaporit yaitu batuan hasil penguapan garam batu, anhidrit, gips, garam kali dan lain-lain.
  • Sedimen organik, sisa-sisa dari zat-zat hidup misal gambut
  • Sedimen silika misal nodul dan konkresi

BAB III

METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah botol sampel (1 buah), salinometer (1 buah), alat pengukuran DO meter (1 buah), pipet tetes (1 buah), dan gelas kimia (1 buah).

III. 2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sampel air laut.

III. 3 Cara Kerja

1. Di Lapangan (Pengambilan air laut dan hewan bentos)

1. Menyediakan botol sampel sebagai wadah air laut yang akan diuji kadar

salinitasnya.

2. Pengamat kemudian berenang ke laut dan menyelam untuk mencari hewan-hewan

bentos yang ada pada ekosistem laut tersebut.

3. Mengambil air laut dan memasukkannya ke dalam botol sampel yang telah

disediakan.

2. Di Laboratorium

a. Pengukuran Salinitas

1. Meneteskan beberapa tetes air laut pada alat ukur salinometer.

2. Melihat penunjukan angka pada alat ukur salinometer kemudian dicatat pada

lembar pengamatan.

b. Pengukuran DO (Dissolved Oxygen)

1. Mencelupkan alat DO meter pada air laut yang dituang dalam gelas kimia.

2. Melihat angka yang tertera pada alat DO meter kemudian mencatat hasil yang diperoleh pada lembar pengamatan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengamatan

IV.1.1 Hasil Pengamatan Lapangan

Aspek

Keterangan

Kimia

Air laut terdiri dari campuran 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik, dan partikel-partikel tidak larut.

Biologi

Terdapat bentos berupa kerang-kerangan (bivalvia), lamun (seagrass), kaloman, dan bintang laut.

Fisika

Memiliki lingkungan muara, terbentuk dari pasir, dan dapat dimanfaatkan untuk pelabuhan tetapi memerlukan dermaga yang panjang.

IV.1.2 Hasil Pengukuran

Pengukuran

Alat

Hasil (‰)

Salinasi

Salinometer

3,5

DO

DO meter

5,5

BAB V

PENUTUP

V. 1 Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil pengamatan, kesimpulan dari percobaan ini adalah :

  1. Keadaan fisik daerah muara Sungai Jeneberang merupakan lingkungan muara yang terbentuk dari pasir. Kemudian dari segi kimia, air lautnya terdiri atas air murni dan material seperti garam, gas terlarut, bahan organik, dan partikel tidak larut. Sedangkan dari faktor biologi, terdiri atas bentos yang berupa kerang, lamun, dan binatang laut.
  2. Sedimen dari muara Sungai Jeneberang termasuk sedimen litogeneus.

V.2 Saran

Sebaiknya percobaan dalam laboratorium dilakukan oleh praktikan, agar praktikan lebih paham cara penggunaannya. Dan saat percobaan di lapangan, para praktikan lebih diawasi agar lebih maksimum dalam pengamatan dan pengambilan sampel.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2005, Sedimentasi, http://e-dukasi.net/, diakses pada tanggal 29 Mei 2008 pukul 22:51.

Anonim, 2007, Break Water, tentang sedimen, http://www.rageagainst.multiply.com/, diakses pada tanggal 29 Mei 2008 pukul 23:23.

Anonim, 2007, Wilayah Pesisir Pantai, http://mgi.esdm.go.id./, diakses pada tanggal 29 Mei 2008 pukul 23:23.

Nontji, A., 1993, Laut Nusantara, Djambatan, Jakarta.

Tim Dosen, 2008, Oseanologi Pendahuluan, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Widada, S., 2002, Modul Mata Kuliah, Universitas Diponegoro, Semarang.

IV. Kurva Sigmoid Pertumbuhan

•Juni 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

PERCOBAAN IV

KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN

Nama                     : Hildayani

Nim                        : H41107025

Kelompok              : II (Dua)

Tgl. Percobaan       : 14 Mei  2009

Asisten                   : Masira Salahuddin

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2009

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Proses pertumbuhan merupakan hal yang lazim bagi setiap tumbuhan. Dalam proses pertumbuhan terjadi penambahan volume yang signifikan. Seiring berjalannya waktu pertumbuhan suatu tanaman terus bertambah. Proses tumbuh sendiri dapat dilihat pada selang waktu tertentu, di mana setiap pertumbuhan tanaman akan menunjukkan suatu perubahan dan dapat dinyatakan dalam bentuk kurva/diagram pertumbuhan (Latunra, dkk., 2009).

Banyak peneliti merajahkan ukuran atau bobot organisme terhadap waktu, dan ini menghasilkan kurva pertumbuhan. Walaupun proses metabolik dan proses fisika yang menghasilkan kurva pertumbuhan terlalu rumit untuk dijelaskan dengan menggunakan model sederhana, kurva sederhana sering berguna dalam perujukan berbagai data yang terukur. Lagipula, koefisien yang harus dimasukkan, agar persamaan cocok dengan kurva, dapat digunakan untuk mengelompokkan efek suatu perlakuan percobaan (misalnya, metode pemberian irigasi atau zat pengatur tumbuh) pada pertumbuhan organ tumbuhan atau tumbuhan yang diamati (Salisbury dan Ross, 1995).

Laju pertumbuhan suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju tumbuh digambarkan dengan suatu grafik, dengan laju tumbuh ordinat dan waktu pada absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk huruf s atau kurva sigmoid. Kurva sigmoid ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya ataupun sel-selnya (Latunra, dkk., 2009).

Percobaan ini diadakan dengan melihat berapa rata-rata pertumbuhan daun dengan menggunakan kurva sigmoid tersebut.

I.2 Tujuan percobaan

Tujuan diadakannya percobaan ini adalah untuk mengamati laju tumbuh daun sejak dari embrio dalam biji hingga daun mencapai ukuran tetap pada tanaman  kacang merah Phaseolus vulgaris.

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Makassar. Dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 14 Mei 2009, pukul 15.00 – 16.00 WITA.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat dibalikkan dalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti pertambahan ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel dan pertambahan jumlah sel. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel (Kaufman, dkk., 1975).

Banyak faktor yang mepengaruhi pertumbuhan di antaranya adalah faktor genetik untuk internal dan faktor eksternal terdiri dari cahaya, kelembapan, suhu, air, dan hormon. Untuk proses perkecambahan banyak di pengaruhi oleh faktor cahaya dan hormon, walaupun faktor yang lain ikut mempengaruhi. Menurut leteratur perkecambahan di pengaruhi oleh hormon auxin, jika melakukan perkecambahan di tempat yang gelap maka akan tumbuh lebih cepat namun bengkok, hal itu disebabkan karena hormon auxin sangat peka terhadap cahaya, jika pertumbuhannya kurang merata. Sedangkan di tempat yang perkecambahan akan terjadi relatif lebih lama, hal itu juga di sebabkan pengaruh hormon auxin yang aktif secara merata ketika terkena cahaya. Sehingga di hasilkan tumbuhan yang normal atau lurus menjulur ke atas (Soerga, 2009).

Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap lingkungan dan koordinasi respons sangat jelas terlihat. Tumbuhan dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulus ini dengan cara yang kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih menyukai mekanisme respons tumbuhan yang meningkatkan keberhasilan reproduktif, namun ini mengimplikasikan tidak adanya perencanaan yang disengaja pada bagian dari tumbuhan tersebut (Campbell, 2002).

Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, organel-organel dan bahan-bahan penyusun sel yang lain. Sedang pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel. Pertumbuhan akar tanaman merupakan hasil dari pertumbuhan jumlah sel dan pertambahan volume sel secara bersama-sama (Soerga, 2009).

Pada batang yang sedang tumbuh, daerah pembelahan sel  batang lebih jauh letaknya dari ujung daripada daerah pembelahan akar, terletak beberapa sentimeter dibawah ujung (tunas). Sedangkan pertambahan panjang tiap lokus pada akar tidak diketahui pertambahan panjang terbesar dikarenakan kecambah mati (Salisbury dan Ross, 1995).

Teorinya, semua ciri pertumbuhan bisa diukur, tapi ada dua macam pengukuran yang lazim digunakan untuk mengukur pertambahan volume atau massa. Yang paling umum, pertumbuhan berarti pertambahan ukuran. Karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertambahan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pada banyak kajian, pertumbuhan perlu diukur. Pertambahan volume (ukuran) sering ditentukan denagn cara mengukur perbesaran ke satu atau dua arah, seperti panjang (misalnya, tinggi batang) atau luas (misalnya, diameter batang), atau luas (misalnya, luas daun). Pengukuran volume, misalnya dengan cara pemindahan air, bersifat tidak merusak, sehingga tumbuhan yang sama dapat diukur berulang-ulang pada waktu yang berbeda (Salisbury dan Ross, 1995).

Pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-angsur lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik, dalam waktu tertentu maka akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S). Bentuk kurva sigmoid untuk semua tanaman kurang lebih tetap, tetapi penyimpangan dapat terjadi sebagai akibat variasi-variasi di dalam lingkungan. Ukuran akhir, rupa dan bentuk tumbuhan ditentukan oleh kombinasi pengaruh faktor keturunan dan lingkungan (Solin, 2009).

Kurva sigmoid yaitu pertumbuhan cepat pada fase vegetatif sampai titik tertentu akibat pertambahan sel tanaman kemudian melambat dan akhirnya menurun pada fase senesen (Anonim, 2008).

Beberapa cara tersedia dalam pendekatan pada sistem seperti sistem tanaman dengan produk biomassa yang meningkat secara sigmoid dengan waktu untuk mendapatkan faktor-faktor dan proses hipotetik. Menerapkan fenomena yang sudah dikenal cukup baik kepada suatu sistem yang sedang dipelajari merupakan suatu pendekatan yang umum dilakukan. Pada suatu waktu, distribusi zat dalam setiap tempat dalam ruangan akan menunjukkan hubungan yang berbentuk sigmoid (Solin, 2009).

Kurva menunjukkan ukuran kumulatif sebagai fungsi dari waktu. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali, yaitu fase logaritmik, fase linier dan fase penuaan. Pada fase logaritmik ini berarti bahwa laju pertumbuhan lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan ukuran organisme. Semakin besar organisme, semakin cepat ia tumbuh. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun, saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Solin, 2009).

Laju pertumbuhan relative (relative growth rate) menunjukkan peningkatan berat kering dalam suatu interval waktu dalam hubungannya dengan berat asal. Dalam situasi praktis, rata-rata pertumbuhan laju relative dihitung dari pengukuran yang di ambil pada waktu t1 dan t2 (Susilo, 1991)

Kurva pertumbuhan berbentuk S (sigmoid) yang ideal. Tiga fase utama biasanya mudah dikenali: fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Pada fase logaritmik, ukuran (v) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan. Fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Solin, 2009).

Pertumbuhan kacang hijau (Phaseolus radiatus) jika digambarkan dalam grafik akan membentuk kurva sigmoid (bentuk S). Kurva ini menggambarkan baik pertumbuhan tinggi tanaman maupun jumlah daun. Keduanya dalam bentuk sigmoid. Hal ini sesuai dengan literatur Tjitrosomo (1991) yang menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman mula-mula lambat, kemudian berangsur-berangsur menjadi lebih cepat sampai tercapai suatu maksimum, akhirnya laju tumbuh menurun. Apabila digambarkan dalam grafik dalam waktu tertentu akan terbentuk kurva sigmoid (bentuk S) (Solin, 2009).

Pengukuran daun tanaman mulai dari waktu embrio dengan menggunakan kurva sigmoid juga memiliki hubungan erat dengan perkecambahan biji tersebut yang otomatis juga dipengaruhi oleh waktu dormansi karena periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji. Ada bukti bahwa pencegah kimia terdapat di dalam biji ketika terbentuk. Pencegah ini lambat laun dipecah pada suhu rendah sampai tidak lagi memadai untuk menghalangi perkecambahan ketika kondisi lainnya menjadi baik. Waktu dormansi berakhir umumnya didasarkan atas suatu ukuran yang bersifat kuantitatif. Untuk tunas dan biji dormansi dinyatakan berhasil dipecahkan jika 50 % atau lebih dari populasi biji tersebut telah berkecambah atau 50% dari tunas yang diuji telah menunjukkan pertumbuhan. Bagi banyak tumbuhan angiospermae di gurun pasir mempunyai pencegah yang telah terkikis oleh air di dalam tanah. Dalam proses ini lebih banyak air diperlukan daripada yang harus ada untuk perkecambahan itu sendiri. (Kimball, 1992).

Pada fase logaritmik ukuran (V) bertambah secara eksponensial sejalan dengan waktu (t). Ini berarti bahwa laju pertumbuhan (dv/dt) lambat pada awalnya, tapi kemudian meningkat terus. Laju berbanding lurus dengan organisme, semakin besar organisme, semakin cepat pula ia tumbuh. Pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum selama beberapa waktu lamanya. Tidak begitu jelas mengapa laju pertumbuhan pada fase ini harus konstan, dna bukan sebanding dengan peningkatan ukuran organisme. Tapi, pada batang tak bercabang, fase linier tersebut disebabkan hanya oleh aktivitas yang konstan dari meristem apikalnya. Fase penuaan dicirikan oleh pertumbuhan yang menurun saat tumbuhan sudah mencapai kematangan dan mulai menua (Salisbury dan Ross, 1995).

BAB III

METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah penggaris milimeter, pisau, toples/wadah dan kayu kecil.

III. 2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah biji kacang merah Phaseolus vulgaris, tanah, air, polybag.

III. 3 Cara Kerja

Prosedur kerja dari percobaan ini adalah :

  1. Merendam biji kacang merah selama 2 jam di dalam nampan/toples yang berisi air.
  2. Memilih biji yang baik sebanyak 28 biji.
  3. Setelah 2 jam merendam, mengupas 3 biji dan membuka kotiledonnya mengukur panjang pada embrionya dengan penggaris, kemudian menghitung nilai rata-ratanya.
  4. Menanan 25 biji dalam polybag, menyiram dengan air secukupnya dan dipelihara selama 2 minggu.
  5. Mengadakan pengamatan sebagai berikut :
    1. Mengukur panjang daun pertamanya pada umur 3, 5, 7, 10, dan 14 hari.
    2. Mengukur daun pada umur 3 dan 5 hari yang dilakukan dengan menggali tanah, tiap pengukuran dilakukan tanpa memotong kecambah.
    3. Menentukan rata-rata panjang daun dari tiap-tiap seri pengukuran.
    4. Membuat grafik dengan panjang rata-rata daun dan waktu pengukuran sebagai absisa.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1  Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan dari percobaan ini ditunjukkan oleh tabel berikut :

  1. Panjang daun pada embrio

Embrio

Panjang embrio

1

0,5 cm

2

0,6 cm

3

0,6 cm

Rata-rata

0,6 cm

  1. Panjang daun pada kecambah

Daun ke-

Hari / Tanggal

Minggu/

17 Mei 2009

Selasa/

19 Mei 2009

Kamis/

21 Mei 2009

Minggu/

24 Mei 2009

Kamis/

28 Mei 2009

1

1,5 cm

3,8 cm

5,4 cm

6,7 cm

7,1 cm

2

1,5 cm

3,4 cm

5,1 cm

5,4 cm

5,6 cm

3

2,5 cm

2,9 cm

3,4 cm

5,4 cm

5,6 cm

Rata-rata

1,8 cm

3,4 cm

4,6 cm

5,8 cm

6,1 cm

4

2,5 cm

4,5 cm

5,2 cm

5,4 cm

5

4 cm

6,1 cm

6,6 cm

7 cm

6

3,1 cm

4,8 cm

5,4 cm

5,8 cm

Rata-rata

3,2 cm

5,1 cm

5,7 cm

6,1 cm

7

3,2 cm

5,2 cm

6,1 cm

6,2 cm

8

3,5 cm

5 cm

5,9 cm

6,1 cm

9

4 cm

5,8 cm

6,1 cm

6,2 cm

Rata-rata

3,6 cm

5,3 cm

6,0 cm

6,2 cm

10

3,2 cm

4,1 cm

5,6 cm

5,9 cm

11

2,8 cm

3,7 cm

4,5 cm

4,6 cm

12

3,4 cm

5,2 cm

5,6 cm

5,9 cm

Rata-rata

3,1 cm

4,3 cm

5,2 cm

5,5 cm

13

3,4 cm

3,9 cm

4,2 cm

4,5 cm

14

3,3 cm

3,8 cm

4,7 cm

5 cm

15

3,8 cm

5 cm

5,5 cm

5,9 cm

Rata-rata

3,5 cm

4,2 cm

4,8 cm

5,1 cm

16

3,6 cm

4 cm

5,6 cm

5,8 cm

17

3,7 cm

5,5 cm

6,2 cm

6,3 cm

18

2,9 cm

3,4 cm

4 cm

4,2 cm

Rata-rata

3,4 cm

4,3 cm

5,3 cm

5,4 cm

19

3,6 cm

4,1 cm

4,5 cm

4,8 cm

20

2 cm

3,4 cm

4,1 cm

4,4 cm

21

3 cm

4 cm

4,8 cm

5,2 cm

Rata-rata

2,9 cm

3,8 cm

4,5 cm

4,8 cm

22

3 cm

3,8 cm

4,1 cm

4,5 cm

23

2,9 cm

3 cm

3,1 cm

4,5 cm

24

3,3 cm

4 cm

4,4 cm

5 cm

Rata-rata

3,1 cm

3,6 cm

3,9 cm

4,7 cm

IV.2 Grafik

IV.3   Pembahasan

Pada percobaan ini menggunakan kacang merah Phaseolus vulgaris yang bertujuan untuk mengamati daun dari embrio dalam biji sampai mencapai ukuran tetap pada tanaman tersebut. Biji yang digunakan adalah sebanyak 28 biji di mana 3 biji dikupas kulitnya dan dibuja kotiledonnya, kemudian diukur panjang embrionya. Lalu dihitung panjang rata-ratanya. Hal ini dilakukan sesuai dengan tujuan yaitu untuk mengamati daun dari embrio. Dari hasil pengukuran diperoleh panjang rata-rata embrio yaitu 0,6 cm.

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan maka dapat diperoleh hasil pengamatan sebanyak 5 kali dengan pengukuran pada kedua helai daunnya, dimana titik awal pengukuran dari daun tersebut diawali pada tangkai dasar induk daun.

Pada pengamatan I, batang tertinggi terdapat pada tanaman ke-3 dengan panjang daun 2,5 cm dan terpendek yaitu 1,5 cm pada tanaman ke-1 dan ke-3. Akan tetapi, pada daun tanaman 4-25 belum dapat untuk diukur karena panjangnya belum pantas untuk diperhitungkan.

Untuk daun tanaman pada pengamatan II, daun terpanjang adalah 4 cm pada tanaman ke-9 dan daun terpendek adalah 2 cm pada tanaman ke-20. Untuk pengamatan III, daun terpanjang adalah 5,8 cm pada tanaman ke-9 dan daun terpendek adalah 3 cm pada tanaman ke-23. Untuk pengamatan IV, daun terpanjang terdapat pada tanaman ke-1 dengan panjang daun 6,7 cm dan daun terpendek adalah pada tanaman ke-23 dengan panjang daun 3,1 cm. Untuk pengamatan V, daun tanaman terpanjang adalah 7,2 cm pada tanaman ke-25 dan daun tanaman terpendek adalah 4,2 cm pada tanaman ke-18.

Setelah melakukan pengamatan tersebut didapatkan kurva yang tidak berbentuk huruf S yang berarti bahwa pengamatan tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman jika dibuatkan kurva akan berbentuk huruf S. Hal ini mungkin disebbakan karena pada pengamatan terakhir daunnya belum mencapai ukuran tetap (belum mengalami fase penuaan) walaupun laju pertumbuhan tanaman meningkat sehingga kurvanya tidak menunjukkan kurva berbentuk S. Tumbuhan dalam pertumbuhannya mengalami tiga fase pertumbuhan yaitu fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan. Proses pertumbuhan ini dipengaruhi bebrapa faktor internal seperti gen dan hormon pertumbuhan dan faktor eksternal seperti cahaya, nutrisi, air, kelembaban, dan sebagainya.

Adanya perbedaan panjang daun dari masing-masing tanaman ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Kualitas biji Kacang merah Phaseolus vulgaris
  2. Sulitnya pematahan dormansi
  3. Kurangnya unsur hara dalam tanah
  4. Kurangnya penyiraman atau pemberian air terhadap tanaman


BAB V

PENUTUP

V.1   Kesimpulan

Dari hasil pengamatan yang diperoleh pada percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:

  1. Proses pertumbuhan ini dipengaruhi oleh bebrapa faktor internal seperti gen dan hormon pertumbuhan dan faktor eksternal seperti cahaya, nutrisi, air, kelembaban, dan sebagainya.
  2. Tumbuhan dalam pertumbuhannya mengalami tiga fase pertumbuhan yaitu fase logaritmik, fase linier, dan fase penuaan.
  3. Laju pertumbuhan tanaman meningkat sebanding dengan waktu.

V.2   Saran

Sebaiknya asisten lebih sering mendampingi praktikan saat diadakannya pengamatan, sehingga praktikan bisa lebih mudah memahami prosedur pengamatan percobaan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, Kurva Sigmoid. http://www.lapanrs.com/. Dikases pada tanggal 5 Mei 2009 pukul 16:14 WITA.

Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell. 2002. Biologi jilid 2. Erlangga, Jakarta.

Kaufman, P. B., J. Labavitch, A. A. Prouty, N.S Ghosheh,  1975.  Laboratory Experiment in Plant Physiology. Macmillan Publishing Co., Inc.  New York.

Kimball, J.W., 1992. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.

Latunra, A.I., Eddyman, W,F., Tambaru, E., 2007. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Salisbury, F.B. dan Ross, C.W., 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press. Bandung.

Soerga, N., 2009. Pola Pertumbuhan Tanaman. http://soearga.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2009 pukul 23:48.

Solin, M., 2009, Kurva Sigmoid. http://nidawafiqahnabila.blogspot.com/. Dikases pada tanggal 5 Mei 2009 pukul 16:06 WITA.

III. Perkecambahan dalam gelap terang

•Juni 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

PERCOBAAN III

PERKEMBANGAN KECAMBAH DALAM GELAP DAN TERANG

Nama                     : Hildayani

Nim                        : H41107025

Kelompok              : II (Dua)

Tgl. Percobaan       : 11 Mei  2009

Asisten                   : Masira Salahuddin

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2009

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pada setiap tahap dalam kehidupan suatu tumbuhan, sensitivitas terhadap lingkungan dan koordinasi respons sangat jelas terlihat. Tumbuhan dapat mengindera gravitasi dan arah cahaya dan menanggapi stimulus-stimulus ini dengan cara yang kelihatannya sangat wajar bagi kita. Seleksi alam lebih menyukai mekanisme respons tumbuhan yang meningkatkan keberhasilan reproduktif, namun ini mengimplikasikan tidka adanya perencanaan yang disengaja pada bagian dari tumbuhan tersebut (Campbell, 2002).

Perkembangan memerlukan suhu yang cocok, banyaknya ir yang memadai, dan persediaan oksigen yang cukup. Periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji sebagai contoh, biji buah apel hanya dapat berkecambah setelah masa dingin yang lama. Ada bukti bahwa perkecambahan kimia terbentuk di dalam bijinya ketika terbentuk. Pencegahan ini lambat laun akan dipecah pada suhu rendah sampai tidak lagi memadai untuk menghalangi perkecambahan ketika kondisi lainnya membaik (Latunra, dkk., 2009).

Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun dari udara (dalam bentuk uap air ataupun embun). Efek yang terjadi membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar dan biji yang melunak (Latunra, dkk., 2009).

Percobaan ini diadakan agar kita dapat melihat bahwa cahaya secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perkembangan perkecambahan itu sendiri.

I.2 Tujuan percobaan

Tujuan diadakannya percobaan ini adalah untuk mempelajari pengaruh

cahaya terhadap perkembangan kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus dan kacang merah Phaseolus vulgaris dalam gelap dan terang.

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Makassar. Dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 11 Mei 2009, pukul 15.00 – 16.00 WITA.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena jika auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat. Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme. Untuk membedakan tanaman yang memiliki hormon yang banyak atau sedikit qita harus mengetahui bentuk anatomi dan fisiologi pada tanaman sehingga kita lebih mudah untuk mengetahuinya. sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang dan gelap diantaranya (Anonim, 2008).

Untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan.hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. sedangkan untuk tanaman yang diletakkan ditempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan ditempat gelap,tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan, hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar matahari (Anonim, 2008).

Banyak faktor yang mepengaruhi pertumbuhan di antaranya adalah faktor genetik untuk internal dan faktor eksternal terdiri dari cahaya, kelembapan, suhu, air, dan hormon. Untuk proses perkecambahan banyak di pengaruhi oleh faktor cahaya dan hormon, walaupun faktor yang lain ikut mempengaruhi. Menurut leteratur perkecambahan di pengaruhi oleh hormon auxin , jika melakukan perkecambahan di tempat yang gelap maka akan tumbuh lebih cepat namun bengkok, hal itu disebabkan karena hormon auxin sangat peka terhadap cahaya, jika pertumbuhannya kurang merata. Sedangkan di tempat yang perkecambahan akan terjadi relatif lebih lama, hal itu juga di sebabkan pengaruh hormon auxin yang aktif secara merata ketika terkena cahaya. Sehingga di hasilkan tumbuhan yang normal atau lurus menjulur ke atas (Soerga, 2009).

Istilah auksin berasal dari bahasa yunani yaitu auxien yang berarti meningkatkan. Auksin ini pertama kali digunakan Frits Went, seorang mahasiswa pascasarjana di negeri belanda pada tahun 1962, yang menemukan bahwa suatu senyawa yang belum dapat dicirikan mungkin menyebabkan pembengkokan  koleoptil oat kerah cahaya. Fenomena pembengkokan ini dikenal dengan istilah fototropisme. Senyawa ini banyak ditemukan Went didaerah koleoptil. Aktifitas auksin dilacak melalui pembengkokan koleoptil yang terjadi akibat terpacunya pemanjangan pada sisi yang tidak terkena cahaya matahari (Salisbury dan Ross, 1995).

Auksin yang ditemukan Went, kini diketahui sebagai Asam Indole Asetat (IAA) dan beberapa ahli fisiologi masih menyamakannya dengan auksin. Namun tumbuhan mengandung 3 senyawa lain yang struktrurnya mirip dengan IAA dan menyebabkan banyak respon yang sama dengan IAA. Ketiga senyawa tersebut dapat dianggap sebagai auksin. Senyawa-senyawa tersebut adalah asam 4-kloroindol asetat, asam fenilasetat (PAA) dan asam Indolbutirat (IBA) (Dwidjoseputro, 1992).

Para ahli fisiologi telah meneliti pengaruh auksin dalam proses pembentukan akar lazim, yang membantu mengimbangkan pertumbuhan sistem akar dan system tajuk. Terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa auksin dari batang sangat berpengaruh pada awal pertumbuhan akar. Bila daun muda dan kuncup, yang mengandung banyak auksin, dipangkas maka jumlah pembentukan akar sampling akan berkurang. Bila hilangnya organ tersebut diganti dengan auksin, maka kemampan membentuk akar sering terjadi kembali (Salisbury dan Ross, 1995).

Auksin juga memacu perkembangan akar liar pada batang. Banyak spesies berkayu, misalnya tanaman apel (Pyrus malus), telah membentuk primordia akar liar terlebih dahulu pada batangnya yang tetap tersembunyi selama beberapa waktu lamanya, dan akan tumbuh apabila dipacu dengan auksin. Primordia ini sering terdapat di nodus atau bagian bawah cabang diantara nodus. Pada daerah tersebut, pada batang apel, masing-masing mengandung sampai 100 primordia akar. Bahkan, batang tanpa primordia sebelumnya kan mampu menghasilkan akar liar dari pembelahan lapisan floem bagian luar (Salisbury dan Ross, 1995).

Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas (kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang hari) (Elisa, 2006).

Kuantitas cahaya

Cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan perkecambahan pada biji-biji yang positively photoblastic (perkecambahannya dipercepat oleh cahaya); jika penyinaran intensitas tinggi ini diberikan dalam durasi waktu yang pendek. Hal ini tidak berlaku pada biji yang bersifat negatively photoblastic (perkecambahannya dihambat oleh cahaya) (Elisa, 2006).

Biji positively photoblastic yang disimpan dalam kondisi imbibisi dalam gelap untuk jangka waktu lama akan berubah menjadi tidak responsif terhadap cahaya, dan hal ini disebut skotodormant. Sebaliknya, biji yang bersifat negatively photoblastic menjadi photodormant jika dikenai cahaya. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan dengan temperatur rendah (Elisa, 2006).

Kualitas cahaya

Yang menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari spektrum (red; 650 nm), sedangkan sinar infra merah (far red; 730 nm) menghambat perkecambahan. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually antagonistic (sama sekali bertentangan): jika diberikan bergantian, maka efek yang terjadi kemudian dipengaruhi oleh spektrum yang terakhir kali diberikan. Dalam hal ini, biji mempunyai 2 pigmen yang photoreversible (dapat berada dalam 2 kondisi alternatif) (Elisa, 2006):

  • P650 : mengabsorbir di daerah merah
  • P730 : mengabsorbir di daerah infra merah

Jika biji dikenai sinar merah (red; 650 nm), maka pigmen P650 diubah menjadi P730. P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang menyebabkan terjadinya perkecambahan. Sebaliknya jika P730 dikenai sinar infra merah (far-red; 730 nm), maka pigmen berubah kembali menjadi P650 dan terhambatlah proses perkecambahan (Elisa, 2006).

Photoperiodisitas

Respon dari biji photoblastic dipengaruhi oleh temperature (Elisa, 2006):

–         Pemberian temperatur 10-200C : biji berkecambah dalam gelap

–         Pemberian temperatur 20-300C : biji menghendaki cahaya untuk berkecambah

–         Pemberian temperatur >350C : perkecambahan biji dihambat dalam gelap atau terang

Kebutuhan akan cahaya untuk perkecambahan dapat diganti oleh temperatur yang diubah-ubah. Kebutuhan akan cahaya untuk pematahan dormansi juga dapat digantikan oleh zat kimia seperti KNO3, thiourea dan asam giberelin (Elisa, 2006).

Faktor-faktor yang menyebabkan dormansi pada biji dapat dikelompokkan dalam: (a) faktor lingkungan eksternal, seperti cahaya, temperatur, dan air; (b) faktor internal, seperti kulit biji, kematangan embrio, adanya inhibitor, dan rendahnya zat perangsang tumbuh; (c) faktor waktu, yaitu waktu setelah pematangan, hilangnya inhibitor, dan sintesis zat perangsang tumbuh. Dormansi pada biji dapat dipatahkan dengan perlakuan mekanis, cahaya, temperatur, dan bahan kimia. Proses perkecambahan dalam biji dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu proses perkecambahan fisiologis dan proses perkecambahan morfologis. Sedangkan dormansi yang terjadi pada tunas-tunas lateral merupakan pengaruh korelatif dimana ujung batang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bagian tumbuhan lainnya yang dikenal dengan dominansi apikal. Derajat dominansi apikal ditentukan oleh umur fisiologis tumbuhan tersebut (Anonim, 2008).

Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangkaian kompleks proses-proses metabolik, yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangkaian proses perkecambahan. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton tidak jenuh; namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Zat penghambat dapat berada dalam embrio, endosperm, kulit biji maupun daging buah (Elisa, 2006).

Biji-bijian dari banyak spesies tidak akan berkecambah pada keadaan gelap, biji-biji itu memerlukan rangsangan cahaya. Karena itu kelihatannya perkecambahan yang dikendalikan cahaya merupakan satu adaptasi tanaman yang tidak toleran terhadap penaungan. Cahaya sendiri memiliki suatu intensitas, kerapatan pengaliran atau intensitas menunjukkan pengaruh primernya terhadap fotosintesis dan pengaruh sekundernya pada morfogenetika pada intensitas rendah, tetapi sebagian memerlukan energi yang lebih besar (Zhamal, 2008).

Ekologi tanaman dalam kaitannya dengan intensitas cahaya diatur oleh dua hal yaitu penempatan daun dalam posisi dimana akan diterima intersepsi cahaya maksimum. Berarti diatas kanopi dan didalam komunitas yang kompleks sebagian besar daun tesebut tidak dapat mencapainya. Karena itu sebagian besar dari daun akan berada pada intensitas cahaya yang kurang dari yang dibutuhkan.
Fotosintesis dimaksimumkan untuk energi yang diterima, dengan anggapan keadaan ini menjadi dibawah titik jenuh cahaya untuk fotosintesis normal, sehingga tetap dalam kesinambungan neto karbon yang positif (pengikatan CO2 untuk fotosintesis lebih besar daripada jumlah yang dikeluarkan pada respirasi dan hasil karbohidrat). Sehelai daun yang berada pada keseimbangan C yang negative akan memerlukan gula yang diambil dari sisa tanaman dan akan mengurangi ketegaran secara menyeluruh (Zhamal, 2008).

Adanya penyinaran sinar matahari akan menimbulkan cahaya. Sedang cahaya sangat dibutuhkan untuk :Pembentukan zat warna hijau (chlorophyll),
Pertumbuhan tanaman dan kwalitas daripada produksi. Tanaman yang kurang cahaya matahari pertumbuhannya lemah, pucat dan memanjang. Setiap jenis sayuran menghendaki syarat-syarat yang sangat berlawanan, ada suatu jenis yang menghendaki penyinaran panjang, ada pula yang pendek. Yang dimaksud penyinaran panjang ialah lebih dari 12 jam, sedang penyinaran pendek kurang dari 12 jam (Zhamal, 2008).

BAB III

METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah nampan/wadah.

III. 2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah biji kacang merah Phaseolus vulgaris, biji kacang hijau Phaseolus radiatus, air, kertas koran.

III. 3 Cara Kerja

Prosedur kerja dari percobaan ini adalah :

  1. Merendam 60 biji kacang hijau Phaseolus radiatus dan kacang merah Phaseolus vulgaris selama beberapa menit di dalam air.
  2. Memilih kacang hijau Phaseolus radiatus dan kacang merah Phaseolus vulgaris yang mengapung di air yang menandakan kualitasnya baik dan cocok.
  3. Menyiapkan 2 buah nampan yang telah diberi sobekan-sobekan kecil koran di dasarnya. Kemudian membasahi sobekan-sobekan koran tersebut.
  4. Memasukkan masing-masing 10 buah kacang hijau Phaseolus radiatus dan kacang merah Phaseolus vulgaris pada kedua nampan.
  5. Menempatkan nampan pertama di tempat yang terang dan nampan kedua di tempat yang gelap.
  6. Melakukan pengamatan selama 1 minggu untuk melihat perkembangan tanaman dan mencatat hasilnya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1  Hasil Pengamatan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, biji yang ditanam tidak ada yang mengalami pertumbuhan baik penanaman pada tempat terang maupun penanaman pada tempat gelap

IV.2   Pembahasan

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, tidak memperlihatkan tanda pertumbuhan dan perkembangan biji kacang hijau phaseolus radiatus. Hal ini disebabkan karena dalam proses penanaman biji kacang hijau kurang maksimal karena pemberian airnya sedikit, sehingga proses tumbuh biji kacang hijau tersebut sangat sulit. Air merupakan unsur penting dalam pertumbuhan kecambah tanaman, oleh karena itu pertumbuhan kecambah tersebut tentunya akan terganggu karena kurang maksimalnya air yang didapatkan kecambah tersebut.

Selain itu dapat pula disebabkan dormansi dari biji yang tidak berhasil dipecahkan pada saat perendaman sebelum penanaman biji dilakukan. Dormansi merupakan kondisi fisik dan fisiologis pada biji yang mencegah perkecambahan pada waktu yang tidak tepat atau tidak sesuai. Dormansi ini dapat terjadi karena kurangnya proses imbibisi air di dalam biji.

BAB V

PENUTUP

V.1   Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa percobaan yang dilakukan untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Kecambah pada Tempat Gelap dan Terang tidak berhasil karena kekurangan air pada proses penanamannya.

V.2   Saran

Sebelum penanaman, terlebih dahulu dilakukan perendaman untuk memcah dormansi biji itu sendiri. Jadi sebaiknya perendaman lebih dimaksimalkan agar dapat berhasil memecahkan dormansi biji yang akan ditanam. Sehingga kesalahan pengamatan lebih dapat dimaksimalkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Auksin. http://id.wikipedia.org/. diakses pada tanggal 20 Oktober 2008 pukul 20:41.

Anonim, 2008. Dormansi Benih dan Pemecahannya. http://pustaka.ut.ac.id//, diakses pada tanggal 15 April 2008 pukul 21:38.

Elisa, 2006. Dormansi dan Perkecambahan Biji. http://elisa.ugm.ac.id/. diakses pada tanggal 13 Oktober 2008 pukul 22:53.

Dwidjoseputro, D., 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Latunra, A.I., Eddyman, W,F., Tambaru, E., 2007. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan II. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Salisbury, F.B. dan Ross, C.W., 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press. Bandung.

Soerga, N., 2009. Pola Pertumbuhan Tanaman. http://soearga.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2009 pukul 23:48.

Zhamal, 2008. Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan Biji Kacang Hijau. http:// catatanzhamal.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 12 Mei 2009 pukul 20:37.

II. Kontrol Fotoperioditas Tumbuhan

•Juni 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

PERCOBAAN II

KONTROL FOTOPERIODITAS PADA TANAMAN

Nama                     : Hildayani

Nim                        : H41107025

Kelompok              : II (Dua)

Tgl. Percobaan       : 5 Mei  2009

Asisten                   : Masira Salahuddin

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2009

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Faktor lingkungan merupakan faktor yang sangat erat berhubungan kehidupan tanaman, yang akan mempengaruhi proses-proses fisiologi dalam tanaman. Semua proses fisiologi akan dipengaruhi oleh suhu dan beberapa proses akan tergantung dari cahaya. Penyinaran cahaya terhadap tanaman merupakan salah satu faktor eksternal yaitu faktor dari luar yang mempengaruhi pembungaan (Natania, 2008).

Kejadian musiman sangat penting dalam siklus kehidupan sebagian besar tumbuhan. Perkecambahan biji, pembungaan, permulaan dan pengakhiran dormansi tunas merupakan contoh-contoh tahapan dalam perkembangan tumbuhan yang umumnya terjadi pada waktu spesifik dalam satu tahun. Stimulus lingkungan yang paling sering digunakan oleh tumbuhan untuk mendeteksi waktu dalam satu tahun adalah fotoperiode, yaitu suatu panjang relative malam dan siang. Respons fisologis terhadap fotoperiode, seperti pembungaan, disebut fotoperiodisme (photoperiodism) (Campbell, dkk., 1999).

Penemuan fotoperiodisme merangsang banyak sekali ahli fisiologi tanaman untuk mengadakan penyelidikan tentang proses itu lebih jauh dalam usahanya untuk menentukan mekanisme aksi. Mereka segera menemukan bahwa istilah hari pendek dan hari panjang merupakan salah kaprah (misnomer). Interupsi periode hari terang dengan interval kegelapan tidak mempunyai efek mutlak pada proses pembungaan (Natania, 2008).

Fotoperiodisme sendiri merupakan respon tumbuhan terhadap intensitas cahaya dan panjang penyinaran. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai respon tumbuhan terhadap intesitas cahaya tersebut, maka diadakanlah percobaan ini.

I.2 Tujuan percobaan

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk melihat pengaruh fotoperiodisme terhadap pembentukan bunga tanaman tanaman pacar air Impatiens balsamina.

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Makassar. Dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 5 Mei 2009, pukul 14.00 – 17.00 WITA.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Faktor-Faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari tumbuhan yaitu (Natania, 2008) :

1.   Air dan Mineral berpengaruh pada pertumbuhan tajuk 2 akar. Diferensiasi salah satu unsur hara atau lebih akan menghambat atau menyebabkan pertumbuhan tak normal.

2.   Kelembaban.

3.   Suhu, di antaranya mempengaruhi kerja enzim. Suhu ideal yang diperlukan untuk pertumbuhan yang paling baik adalah suhu optimum, yang berbeda untuk tiap jenis tumbuhan.

4. Cahaya, mempengaruhi fotosintesis. Secara umum merupakan faktor penghambat.

5.   Etiolasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat di tempat yang gelap

6. Fotoperiodisme adalah respon tumbuhan terhadap intensitas cahaya dan    panjang penyinaran.

Ciri utama fotoperiodisme adalah pengukuran waktu musim dengan mendeteksi panjang siang dan malam. Menurut nalar, fotoperiodisme termasuk contoh pengukuran wqaktu biologis seperti iarama srikardian dan navigasi angkasa. Jika waktu diukur dengan rentan waktu yang dibutuhkan bagi beberapa metabolit untuk diubah menjadi bentuk lain, hal ini sejalan dengan gelas jam yang mengukur selang waktu yang diperlukan bagi pasir untuk jatuh dari atas ke bawah melalui celah yang sempit. Pada sistem seperti itu, hanya satu selang waktu yang diperlukan bagi pasir yang dapat diukur, dan beberapa pengaruh luar harus memulai kembali sistem itu (membalikkan gelas jam). Irama srikardian yang berfungsi selama selang waktu yang panjang pada kondisi terang, dengan suhu dan faktor lain yang konstan, tidak sama dengan gelas-jam, tetapi lebih mirip dengan bandul yang merupakan osilator (Dwidjoseputro, 1984).

Fotoperiodisme merupakan fenomena yang tersebar luas dialam. Dalam tulisannya, Garner dan Allard (1920) telah mengemukakan bahwa migrasi burung mungkin dikendalikan oleh fotoperiode, dan segera fotoperiodisme pada burung dibuktikan. Sejak itu, banyak respon hewan terhadap fotoperiode telah didokumentasikan, termasuk beberapa perubahan perkembangan pada serangga, perubahan bulu, serta peningkatan reproduksi pada serangga reptilian, burung dan mamalia. Pada dasarnya semua aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman dipengaruhi oleh fotoperiode (Salisbury, 1995).

Pertama-tama, perkecambahan biji tertentu dipengaruhi oleh fotoperiode yang diterapkan pada tanaman tetua. Perkecambahan biji dewasa spesies tertentu juga dipengaruhi oleh fotoperiode. Terdapat biji-biji hari panjang dan biji hari pendek dalam hal perkecambahan, dan ini merupakan efek fotoperiodisme sejati dengan memperoleh respon hari panjang melalui interupsi pada periode gelap yang panjang (Salisbury, 1995).

Garner dan Allard menemukan bahwa beberapa tanaman berbunga sebagai respon terhadap siang hari yang lebih panjang daripada panjang kritis, tumbuhan seperti itu disebut tumbuhan hari panjang dan tumbuhan seperti tembakau dan kedelai yang berbunga bila panjang hari kurang dari maksimum, dinamakan tumbuhan hari pendek. Beberapa tumbuhan yang mereka teliti tidak menunjukkan respon terhadap panjang hari, disebut tumbuhan hari netral. Hasil Garner dan Allard itu kemudian dipublikasikan pada tahun 1920, dan mereka menamakan temuan pembungaan dengan respon terhadap panjang siang dan malam sebagai fotoperiodisme (Dwidjoseputro, 1984).

Kejadian musiman sangat penting dalam siklus kehidupan sebagian besar tumbuhan. Perkecambahan biji, pembungaan, permulaan dan pengakhiran dormansi tunas merupakan contoh-contoh tahapan dalam perkembangan tumbuhan yang umumnya terjadi pada waktu yang spesifik dalam satu tahun. Stimulus lingkungan yang paling sering digunakan oleh tumbuhan untuk mendeteksi waktu dalam satu tahun adalah fotoperiode, yaitu suatu panjang relative malam dan siang. Respon fisiologis terhadap fotoperiode, seperti pembungaan disebut fotoperiodisme (Campbell, 2003).

Salah satu petunjuk paling awal mengenai bagaimana tumbuhan mendeteksi perkembangan musim berasal dari suatu varietas hutan tembakau yang dipelajari oleh W.W. Garner dan H.A. Allard pada tahun 1920. varietas ini, yang dinamai Marylind Mammoth, tumbuh luar biasa tingginya akan tetapi gagal berbunga selama musim panas, pada saat tumbuhan tembakau normal berbunga. Akhirnya tanaman tersebut berbunga dalam rumak kaca pada bulan Desember (Campbell, 2003).

Setelah mencoba menginduksi pembungaan dengan cara membuat variasi suhu, kelembapan, dan nutrisi mineral, Garner dan Allard mempelajari bahwa pemendekan siang hari pada musim dinginlah yang merangsang tumbuhan Maryland berbunga. Jika tumbuhan itu dpelihara dalam kotak yang kedap cahaya sehingga lampu dapat digunakan untuk memanipulasi durasi siang dan malam, pembungaan akan terjadi jika panjang siang hari adalah 14 jam atau lebih pendek. Tumbuhan ini tidak berbunga selama musim panas, karena posisi garir lintang di Maryland, sehingga siang hari terlalu panjang selama musim itu (Campbell, 2003).

Pentingnya proses pembungaan menyebabkan banyak ahli fisiologi tumbuhan mencoba mencari apa yang memulainya. Dalam beberpa kasus, rangsangan semata-mata tampaknya dari dalam, seperti pada varietas tomat tertentu secar otomasis membentukprimodial bunga setelah terbentuk 13 ruas pada batang yang tumbuh. Akan tetapi, harus ada cukup makanan cadangan dalam tumbuhan. Jika tumbuhan tidak berfotosintesis secara aktif, maka akan kekurangan cadangan makanan yang penting untuk proses pembungaan (Kimball, 1992).

Pada kebanyakan kasus, rangsangan yang memulai proses pembuangan tampaknya berasal dari luar. Suhu seringkali berfungsi sebagai perangssang kritis. Hal ini terutama benar bagi spesies biennial, yakni tumbuhan yang memerlukan dua musim tumbuh agar dapat melengkapi daur hidupnya. Bit, wortel, bayam merupakan tiga tanaman biennial yang sering dijumpai. Pada musim tumbuh yang pertama, tumbuhan tersebut mengembangkan akar, batang yang pendek, dan sekelompok daun. Selama musim ini, makanan disimpan dalam sistem perakaran. Dengan datangnya cuaca yang dingi, maka pucuknya akan mati. Musim berikutnya bunga terbentuk pada pertumbuhan pucuk yang baru. Setelah proses reproduksi lengkap, seluruh tanaman mati. Akan tetapi, perbungaan tidak terjadi pada musim kedua, kecuali jika tanaman dibiarkan dalam cuaca dingin selam musim dingin. Masih ada faktor lain yang memicu proses pembungaan pada banyak spesies tumbuhan yaitu perubahan pada interval penyinaran sehari-hari terhadap tumbuhan (Kimball, 1992).

Dalam siklus hidup tumbuhan, akhir pembentukan daun dan internodus oleh meristem merupakan awal terjadinya proses pembungaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembungaan antara lain fitokrom, fotoperiodisitas, vernalisasi, dan hormon pembungaan (Anonim, 2008).

Berdasarkan adanya respon tumbuhan terhadap lamanya penyinaran (fotoperiodisitas) dalam proses pembungaan, maka tumbuhan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (Anonim, 2008):

(1). Tumbuhan hari pendek (short day plant)

(2). Tumbuhan hari panjang (long day plant)

(3). Tumbuhan hari netral (neutral day plant).

Pada proses pembungaan yang merupakan periode kritis adalah panjang malam (periode gelapnya). Proses pembungaan tumbuhan tertentu dapat dirangsang dengan perlakuan temperatur rendah (vernalisasi). Pada dasarnya vernalisasi tidak hanya untuk pembungaan tetapi dapat pula diperlakukan pada biji-biji tumbuhan tertentu sebelum perkecambahan. Temperatur optimum untuk vernalisasi berkisar antara 0 – 5oC. Zat yang bertanggung jawab meneruskan rangsangan vernalisasi disebut vernalin, yaitu suatu hormon tumbuh. Hormon tumbuh yang berperan dalam proses pembungaan disebut florigen. Asam giberelin (GA) merupakan salah satu hormon tumbuh yang berperan dalam proses pembungaan, tetapi tidak semua GA efektif untuk merangsang pembungaan, misal GA6 dan GA8 (Anonim, 2008).

Semua kondisi fisik ekosistem bukan saja faktor-faktor pembatas tetapi juga oleh faktor-faktor pengatur. Misalnya siklus tahunan bertambah dengan naiknya garis lintang. Fotoperiodisitas dikenal sebagai biological clock dan organisme untuk membuat mekanisme waktu yang berubah-ubah. Biological Clock adalah mekanisme fisiologis untuk pengaturan waktu. Di antara tumbuhan tingkat tinggi, beberapa jenis tumbuhan berbunga dengan hari panjang (long day plants), yang lain berbunga dengan hari pendek (kurang dari 12 jam) dikenal sebagai short day plants (Ansal, 2008).

Bintil akar pengikat N dalam tanah pada tanaman polong dikontrol oleh fotopriodisitas yang bekerja melalui daun-daun, karena bakteri pengikat N pada bintil akar memerlukan energi makanan yang dihasilkan oleh daun-daun tanaman untuk melakukan kegiatan mereka. Koordinasi yang maksimum antara tanaman dan pola mikrobia lalu ditingkatkan oleh pengatur fotoperiodisitas (Ansal, 2008).

Fotoperiodisitas (panjang hari) merupakan perbandingan antara lamanya waktu siang dan malam hari  Di daerah tropis panjang siang dan malam hampir sama. Makin jauh dari equator (garis lintang besar), perbedaan antara panjang siang dan malam hari juga makin besar (Indramawan, 2009).

Misalnya pada garis 60o LU: Musim panas: siang hari hampir 19 jam, malam hari 5 jam Musim dingin: siang hari hanya 6 jam, malam hari 18 jam (Indramawan, 2009).

Sehubungan dengan fotoperiodisitas tersebut, pada daerah-daerah 4 musim, tanaman dapat dibedakan menjadi (Indramawan, 2009):

• Tanaman berhari pendek

• Tanaman berhari panjang

• Tanaman yang butuh hari pendek untuk mengawali pembungaannya, namun selanjutnya butuh hari panjang untuk melanjutkan proses pembungaan itu.

• Tanaman yang dapat berbunga setiap waktu

Aplikasi hari-pendek dengan penyinaran selama 8 jam akan meningkatkan inisiasi bunga pada Rhododendron. Pengaruh hari-pendek direncanakan untuk diaplikasikan pada spesies pohon temperate, mengingat bahwa inisiasi bunga secara normal terjadi pada musim gugur seiring dengan berkurangnya panjang hari. Namun demikian, pembentukan kuncup bunga pada apel lebih berhasil dilakukan pada 14 jam penyinaran dibandingkan dengan 8 jam, yang mengindikasikan bahwa pada tanaman ini panjang hari di musim panas memberikan hasil yang berbeda nyata (Indramawan, 2009).

BAB III

METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah penggaris, cutter, deg glass, object glass, cangkul, sekop dan mikroskop.

III. 2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah pacar air Impatiens balsamina, air, tanah, kertas, pasir, dan polibag.

III. 3 Cara Kerja

Prosedur kerja dari percobaan ini adalah :

  1. Memilih biji pacar air Impatiens balsamina dan menanamnya pada polibag yang telah diisi dengan tanah, kemudian memlihara tanaman tersebut selama 1 bulan
  2. Mengamati perkembangan biji setelah satu bulan.
  3. Setelah 1 bulan, tanaman pacar air Impatiens balsamina dipelihara selama beberapa hari di bawah kondisi cahaya yang normal.
  4. Meletakkan 1 polibag di tempat yang mendapatkan cahaya pendek (8 jam terang, 16 jam gelap) dan polibag lainnya pada tempat yang mendapat cahaya panjang (16 jam terang dan jam gelap).
  5. Setelah diberi perlakuan fotoperiod, mengambil tanaman tersebut kemudian mengiris dan memeriksa dengan menggunakan mikroskop untuk mengetahui ada tidaknya struktur bunga (primodial bunga).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1  Hasil Pengamatan

  1. a. Tanaman pada Tampat Terang

Hari/Tanggal

Panjang Batang Pacar Air Impatiens balsamina

Batang 1 Batang 2 Batang 3 Batang 4 Batang 5 Batang 6 Batang 7

Selasa/12 Mei 2009

4,1 cm

2,2 cm

4,5 cm

3,5 cm

2,8 cm

Selasa/19 Mei 2009

4,5 cm

2,5 cm

4,5 cm

3,5 cm

Selasa/26 Mei 2009

7,5 cm (pindah tempat)

5 cm

(pindah tempat)

(pindah tempat)

(pindah tempat)

(pindah tempat)

(pindah tempat)

(pindah tempat)

  1. b. Tanaman pada Tempat Gelap

Hari/Tanggal

Panjang Batang Pacar Air Impatiens balsamina

Batang 1 Batang 2 Batang 3 Batang 4 Batang 5 Batang 6 Batang 7

Selasa/12 Mei 2009

10 cm

10,1 cm

11,5 cm

11,6 cm

12,8 cm

Selasa/19 Mei 2009

12,5 cm

10,8 cm

13,5 cm

13,6 cm

Selasa/26 Mei 2009

(pindah tempat)

(pindah tempat)

(pindah tempat)

(pindah tempat)

(pindah tempat)

(pindah tempat)

(pindah tempat)

IV.2   Pembahasan

Pada percobaan kali ini kami melakukan pengamatan sebanyak tiga kali disetiap minggunya. Pada pengamatan ini hasil pengamatan terdiri atas 2 yaitu pengamatan pada tempat gelap dan tempat terang.

  1. Tanaman pada Tempat Gelap

Pada biji Pacar Air Impatiens balsamina, untuk minggu pertama pada hari Selasa, tanggal 12 Mei 2009, hanya 5 biji saja yang tumbuh. Pada biji 1 memiliki panjang batang 4,1 cm, biji 2 memiliki panjang batang 2,2 cm, biji 3 memiliki panjang batang 4,5 cm, biji 3 memiliki panjang batang 3,5 cm, biji 4 memiliki panjang batang 2,8, dan biji 6 dan biji 7 belum mengalami pertumbuhan.

Pada minggu kedua hari Selasa, tanggal 19 Mei 2009, terjadi penurunan pertumbuhan karena pada biji 3 yang pada awalnya memiliki panjang batang 4,5 cm, akan tetapi minggu kedua justru tanaman tersebut mati. Pada biji 1 memiliki pertambahan panjang 4 mm dari 4,1 cm menjadi 4,5 cm. Biji 2 memiliki pertambahan panjang 3 mm dari 2,2 cm menjadi 2,5 cm. biji 3 mengalami kematian. Biji 4 mengalami pertambahan panjang 10 mm atau 1 cm dari 3,5 cm menjadi 4,5 cm. biji 5 mengalami pertambahan panjang 7 mm dari 3,5 cm menjadi 3,5 cm. Biji 6 dan biji 7 tetap belum mengalami pertumbuhan.

Pada minggu ketiga hari Selasa, tanggal 26 Mei 2009, semakin mengalami penurunan pertumbuhan dari 4 tanaman yang tumbuh bersisa 2. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan ternyata tanaman tersebut tidak mengalami gangguan pertumbuhan yang sangat berpengaruh karena merupakan tanamn hasil penempatan dari tempat yang terang ke tempat yang gelap, akan tetapi penyebab utamanya adalah karena adanya variabel pengganggu, yaitu tikus. Pada akhirnya yang bersisa hanya tanaman biji 1 dan tanaman biji 2. Dimana pertambahan panjang batang tanaman 1 mengalami pertambahan 3 cm dari panjang 4,5 cm menjadi 7,5 cm dan pada tanaman biji ke-2 mengalami pertambahan panjang 2,5 cm dari 2,5 cm menjadi 5 cm.

  1. Tanaman pada Tempat Gelap

Pada biji Pacar Air Impatiens balsamina, untuk minggu pertama hari Selasa, tanggal 12 Mei 2009, hanya 5 biji saja yang tumbuh. Pada biji 1 memiliki panjang batang 10 cm, biji 2 memiliki panjang batang 10,1 cm, biji 3 memiliki panjang batang 11,5 cm, biji 3 memiliki panjang batang 11,6 cm, biji 4 memiliki panjang batang 12,8, dan biji 6 dan biji 7 sama halnya dengan tanaman tempat terang juga belum mengalami pertumbuhan.

Pada minggu kedua hari Selasa, tanggal 19 Mei 2009, agak mengalami penurunan pertumbuhan karena pada biji 5 yang pada awalnya memiliki panjang batang 12,8 cm, akan tetapi minggu kedua justru tanaman tersebut mati. Pada biji 1 memiliki pertambahan panjang 2,5 cm dari 10 cm menjadi 12,5 cm. Biji 2 memiliki pertambahan panjang 7 mm dari 10,1 cm menjadi 10,8 cm. Biji 3 mengalami pertambahan panjang 2,5 cm dari 11,5 cm menjadi 13,5 cm. biji 4 mengalami pertambahan panjang 2 cm dari 11,6 cm menjadi 13,6 cm. Biji 5 mengalami kematian, sedangkan biji 6 dan biji 7 tetap belum mengalami pertumbuhan.

Pada minggu ketiga hari Selasa, tanggal 26 Mei 2009, pertumbuhan sama sekali tidak ditemuka lagi. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan tanaman menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dimana pada awalnya ditumbuhkan pada daerah yang tidak terkena cahaya matahari selama 2 minggu dan pada minggu ketiga dipindahtempatkan ke daerah yang terdapat cahaya. Akibatnya adalah kematian secara cepat meskipun tidak bersamaan akan tetapi ketahanan untuk tumbuh tidak ada. Selain itu, berdasarkan pengamatan yang telah kami lakukan tanaman tersebut juga masih tetap mengalami hal yang sama dengan daerah tempat terang, yakni adanya tikus atau variabel pengganggu yang memakan tanaman biji bunga pacar air Impatiens balsamina tersebut.

BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa pada pengamatan kami, tidak ditemukan adanya pembungaan pada bunga pacar air Impatiens balsamina tersebut disebabkan karena adanya perlakuan kepada tanaman tersebut, yaitu dengan pemindahan tempat serta adanya variabel pengganggu oleh tikus.

V.2 Saran

Pada percobaan ini, sebaiknya faktor-faktor dari luar diperhatikan saat pengamatan. Misalnya hewan pengganggu seperti tikus yang dapat mengganggu objek pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Pembungaan Tumbuhan. http://pustaka.ut.ac.id/. Diakses pada tanggal 5 Mei 2009 pada pukul 10:06.

Ansal, B., 2008. Faktor Pembatas dan Lingkungan Fisik. http://akuakulturunhas.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 5 Mei 2009 pada pukul 10:22

Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell. 1999. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell. 2003. Biologi jilid 2. Erlangga, Jakarta.

Dwidjoseputro, D., 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia. Jakarta.

Indramawan, S., 2009. Pembungaan Angiospermae. http://sony042. wordpress.com/. Diakses pada tanggal 5 Mei 2009 pada pukul 10:17

Kimball, J.W., 1992. Biologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta.

Natania, 2008. Hormon Tumbuhan. http://natanhid.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 6 Mei 2009 pada pukul 16:46

Salisbury., Ross, C.W., 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press. Bandung.

I. Daerah Tumbuh

•Juni 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

PERCOBAAN I

DAERAH TUMBUH

Nama                     : Hildayani

Nim                        : H41107025

Kelompok              : II (Dua)

Tgl. Percobaan       : 5 Mei  2009

Asisten                   : Masira Salahuddin

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2009

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat dibalikkan dalam ukuran pada sistem biologi. Secara umum pertumbuhan berarti pertambahan ukuran karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertumbuhan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel dan pertambahan jumlah sel. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, sedangkan pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel (Kaufman, dkk., 1975).

Pertumbuhan akar dan perkecambahan merupakan pertumbuhan yang mencakup kedua fenomena tersebut yaitu pertambahan volume sel dan pertambahan jumlah sel (Fajrullah, 2009).

Pada awal perkembangan tumbuhan, seluruh sel memiliki kemampuan membelah, pada tahap selanjutnya pembelahan sel terjadi hanya di bagian-bagian tertentu. Jaringan yang masih memiliki kemampuan membelah (bersifat embrionik) disebut meristem. Pembelahan sel sebenarnya masih dapat terjadi pada jaringan lain tetapi jumlahnya terbatas (Mada, 2008).

Daerah meristematis pucuk batang mengalami pertumbuhan primer seperti yang terjadi pada akar. Dan untuk lebih mengetahui pertumbuhan yang terjadi pada suatu tanaman dalam hal ini kecambah, maka diadakanlah percobaan ini.

I.2 Tujuan percobaan

Tujuan diadakannya percobaan ini adalah untuk melihat daerah tumbuh dari batang dan akar dari kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris.

I.3 Waktu dan Tempat

Percobaan ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin Makassar. Dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 5 Mei 2009, pukul 14.00 – 17.00 WITA.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan yang tidak dapat balik dalam ukuran pada semua sistem biologi.  Pertumbuhan ini digambarkan dengan kurve yang sigmoid.  Proses pertumbuhan ini diatur oleh pesan hormonal dan respon dari lingkungan (panjang hari, temperatur rendah, perubahan persediaan air.  Pertumbuhan berikutnya disebut diferensiasi, yang didefinisikan sebagai pengontrolan gen dan hormonal serta lingkungan yang merubah struktur dan biokimiawi perubahan ini terjadi pada hewan dan tanaman saat berkembang (Kaufman, dkk., 1975).

Daerah meristematis pucuk batang mengalami pertumbuhan primer seperti yang terjadi pada akar. Namun, caranya lebih kompleks karena tidak hanya proliferasi aksis batang namun juga pembentukan organ lateral lainnya. Pembelahan sel pada batang umumnya terjadi pada internodus paling atas. Selama periode pertumbuhan aktif, meristem ujung batang yang tipis, berdinding lembut dan isodiametris, aktif melakukan proliferasi sel. Pemanjangan sel diperpanjang sepanjang internodus. Semakin jauh dari internodus maka kecepatan pemanjangan semakin lambat. Daerah pemanjangan di belakang ujung batang biasanya 10 cm panjangnya (Mada, 2008).

Proses pemanjangan tunas terjadi melalui pertumbuhan ruas yang sedikit lebih tua di bawah ujung tunas tersebut. Pertumbuhan ini disebabkan pembelahan sel dan pemanjangan sel dalam ruas tersebut. Pembelahan sel dan pertumbuhan yang terus menerus sehingga mendorong ke arah pemanjangan batang dan tunas (Campbell, 1999).

Pada batang yang sedang tumbuh, daerah pembelahan sel  batang lebih jauh letaknya dari ujung daripada daerah pembelahan akar, terletak beberapa sentimeter dibawah ujung (tunas). Sedangkan pertambahan panjang tiap lokus pada akar tidak diketahui pertambahan panjang terbesar dikarenakan kecambah mati (Salisbury, 1995).

Sel-sel inisial membentuk sel-sel pada ujung akar yang bersifat meristematis. Pembelahan sel terjadi secara longitudinal dan beberapa ke arah lateral yang menyebabkan akar berbentuk silindris. Selanjutnya sel-sel dekat ujung akar aktif berproliferasi, dimana terletak tiga zona sel dengan tahapan pertumbuhan primer yang berurutan (zona pembelahan sel, zona pemanjangan dan zona pematangan). Zona pembelahan sel meliputi meristem apikal dan turunannya, yang disebut meristem primer (terdiri dari protoderm, prokambium dan meristem dasar). Meristem apikal yang terdapat di pusat zona pembelahan menghasilkan sel-sel meristem primer yang bersifat meristematik. Zona pembelahan sel bergabung ke zona pemanjangan (elongasi). Disini sel-sel memanjang sampai sepuluh kali semula, sehingga mendorong ujung akar, termasuk meristem ke depan. Meristem akan mandukung pertumbuhan secara terus-menerus dengan menambahkan sel-sel ke ujung termuda zona pemanjangan tersebut (Campbell, 1999).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan distribusi akar yaitu (Gardner, dkk., 1991) :

  1. Genotipe, karakteristik akar secara kuantitatif akan diturunkan ke generasi selanjutnya dan dikendalikan oleh gen, perbedaan genetik ini lalu akan berinteraksi dengan lingkungan.
  2. Persaingan, kompetisi spesies tumbuhan mengeluarkan bahan panghambat oleh akar disebut alelopati.
  3. Penghilangan daun, pemotongan daun dapat mengurangi pertumbuhan akar dan pucuk.
  4. Atmosfer tanah, kandungan CO2 yang lebih banyak dari O2 dalam rhizospere akan merangsang pertumbuhan akar.
  5. PH, dalam pH kurang dari 6 akan membatasi pertumbuhan akar karena meningkatkan kelarutan Al, Mn, Fe.
  6. Temperatur tanah, temperatur optimum pertumbuhan akar lebih rendah dari bagian pucuk.
  7. Kesuburan tanah, pertumbuhan dan perkembangan akar memerlukan sumber mineral yang cukup.
  8. Air, akar tidak akan tumbuh melalui lapisan tanah yang kering.
  9. Daya mekanik dan fisik, akar mngalami resistensi mekanik terhadap pertumbuhan dari bermacam-macam sebab, misal ukuran partikel, kurangnya penggumpalan, kompaksi tanah dan lain-lain.

Berdasarkan letaknya dalam tumbuhan, meristem terbagi menjadi (Fajrullah, 2009):

  1. Meristem apeks, adalah meristem yang berada di ujung batang dan ujung akar
  2. Meristem lateral, adalah meristem yang menyebabkan organ bertambah lebar ke arah lateral
  3. Meristem interkalar, adalah meristem yang berada diantara jaringan yang sudah berdiferensiasi, misalnya pada ruas-ruas tumbuhan Graminae.

Berdasarkan asalnya, meristem terbagi menjadi meristem primer dan meristem skunder (Fajrullah, 2009):

  1. Meristem primer, adalah meristem yang berkembang langsung dari sel embrionik.
  2. Meristem skunder, adalah meristem yang berkembang dari jaringan yang telah mengalami diferensiasi.

Pada meristem apeks primer dapat dibedakan antara promeristem dan daerah meristematis dibawahnya dimana sel telah mengalami diferensiasi sampai taraf tertentu. Promeristem terdiri dari pemula-pemula apeks bersama dengan sel derivatnya yang masih berdekatan dengan pemula (Fajrullah, 2009).

Daerah meristematik di bawahnya yang telah sebagian terdiferensiasi terdiri dari (Fajrullah, 2009):

  1. protoderm yang menghasilkan epidermis
  2. prokambium yang membentuk jaringan pembuluh primer
  3. meristem dasar yang membentuk jaringan dasar seperti parenkim.

Jaringan meristem, memiliki ciri-ciri dinding sel tipis, bentuk sel isodiametris dibanding sel dewasa, jumlah protoplasma sangat banyak. Biasanya protoplas sel meristem tidak memiliki cadangan makanan dan kristal, sedangkan plastida masih pada tahap pro plastida. Pada Anggiospermae sel meristem memiliki vakuola kecil yang tersebar diseluruh protoplas (Fajrullah, 2009).

Meristem apeks pucuk adalah bagian yang tepat di atas primordium daun yang paling muda yang bersifat meristematis. Bentuk apeks pucuk dari arah memanjang, pada umumnya sedikit cembung dan dapat berubah-ubah Berbagai bentuk meristem apeks pucuk pada berbagai kelompok tumbuhan adalah sebagai berikut (Fajrullah, 2009):

  1. Pteridophyta, terdiri dari 1 sel disebut sel apical dan terdiri dari lebih dari 1 sel disebut initial apikal
  2. Gymnospermae
    1. Type Cycas : terdapat meristem permukaan dengan bidang pembelahan antiklinal dan periklinal
    2. Type Ginkgo : terdapat sel induk sentral, meristem tepi (perifer) dan meristem rusuk ( meristem tengah)
    3. Angiospermae

Teori Histogen oleh Hanstain (1868), menyatakan bahwa terdapat tiga daerah di apeks pucuk (Gambar 1), yaitu Dermatogen (I) menjadi epidermis, Pleurom (III) akan menjadi silinder pusat, dan Periblem (II) akan menjadi korteks

Teori yang dianut hingga sekarang adalah Teori Tunica Corpus oleh Schmidt (1924), yang menyatakan bahwa terdapat 2 daerah pada meristem apeks pucuk yaitu (Fajrullah, 2009):

1. Tunika pada lapisan terluar yang membelah antiklinal akan berdiferensiasi menjadi epidermis

2. Corpus dibawah tunica, membelah ke segala arah dan membentuk semua jaringan selain epidermis

Meristem lateral termasuk kambium pembuluh dan kambium gabus yang menyebabkan pertumbuhan menebal dan melebar jauh dari apeks, umum ditemukan pada Dicotyledoneae dan Gymnospermae. Pertumbuhan yang dihasilkannya disebut pertumbuhan sekunder (Fajrullah, 2009).

Kambium pembuluh ialah meristem sekunder yang berfungsi membentuk ikatan pembuluh (xylem dan floem) sekunder. Bentuk selnya seperti pipa atau berkas-berkas memanjang sejajar permukaaan batang atau akar. Meristem ini adalah meristem lateral karena terdapat di daerah lateral akar dan batang. Ciri-ciri sel nya agak berbeda dengan cirri sel meristem apeks. Dari segi morfologi dapat dibedakan menjadi 2 tipe sel kambium, yaitu (Fajrullah, 2009):

a.   Sel fusiform : bentuk memanjang dengan ujung meruncing, letak memanjang sejajar dengan sumbu, fungsinya membentuk jaringan pembuluh sekunder

b.   Sel jari-jari empulur : bentuk sel membulat kecil, tersusun kearah radial membentuk jari-jari empulur

Kambium gabus atau felogen adalah meristem yang menghasilkan periderm. Periderm adalah jaringan pelindung yang terbentuk secara sekunder dan menggantikan epidermis pada batang dan akar yang menebal karena pertumbuhan sekunder. Periderm mencakup felogen (cambium gabus) yaitu meristem yang menghasilkan periderm, felem (gabus) yaitu jaringan pelindung yang dibentuk kea rah luar oleh felogen dan feloderm yaitu jaringan parenkim hidup yang dibentuk oleh felogen ke arah dalam (Fajrullah, 2009).

Pertumbuhan biologis terjadi dengan dua fenomena yang berbeda antara satu sama lain. Pertambahan volume sel merupakan hasil sintesa dan akumulasi protein, organel-organel dan bahan-bahan penyusun sel yang lain. Sedang pertambahan jumlah sel terjadi dengan pembelahan sel. Pertumbuhan akar tanaman merupakan hasil dari pertumbuhan jumlah sel dan pertambahan volume sel secara bersama-sama (Soerga, 2009).

Selama proses pembelahan sel, kromatin (DNA dan komplek protein) terduplikasi, kromatin yang terduplikasi memisah menjadi dua terbagi menjadi dua bagian yang identik satu sama lain, sel induk terbagi menjadi dua bagian yang sama, masing-masing setengah bagian (Soerga, 2009).

Kegiatan pembelahan sel biasanya terjadi pada daerah tumbuh dari tanaman(misalnya pucuk tanaman dan ujung akar) dan binatang (misalnya pada perkembangan embrio dan sumsum tulang punggung). Pertumbuhan akar merupakan hasil dari pertambahan jumlah sel dan pertambahan volume sel secara bersama-sama. Pertambahan sel terjadi pada daerah tumbuh (germinal regions) yang disebut dengan jaringan meristem. Dan dibelakang daerah tersebut terjadi pertambahan ukuran sel dan terjadi diferensiasi sel hingga terbentuk sel fungsional (Soerga, 2009).

BAB III

METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah toples, gelas ukur, lempeng kaca, nampan/wadah, dan penggaris.

III. 2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris, air, kertas koran, kertas saring (kertas filter paper), kapas, karet gelang, dan tinta cina.

III. 3 Cara Kerja

Prosedur kerja dari percobaan ini adalah :

  1. Menyiapkan kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris.
  2. Mencabut 6 batang kecambah tersebut, di mana 3 buah digunakan untuk pengamatan akar dan 3 lainnya digunakan untuk pengamatan batang.
  3. Memberikan tanda menggunakan tinta cina pada bagian yang telah diukur 2 cm. 2 cm dari pangkal batang dan akar.
  4. Mengukur 2 mm pada bagian akar dan batang yang telah diukur 2 cm.
  5. Memberikan tanda menggunakan tinta cina pada setiap bagian yang telah diukur 2 mm.
  6. Membungkus plat kaca menggunakan kertas saring.
  7. Meletakkan kecambah yang telah ditandai ke atas masing-masing plat kaca.
  8. Membungkus akar setiap kecambah menggunakan kapas.
  9. Mengikat kecmbah tersebut di atas plat kaca menggunakan karet gelang

10.  Memasukkan ke dua plat kaca berisi kembah ke dalam toples yang sebelumnya telah diisi air.

11.  Melakukan pengamatan selama 5 hari.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1  Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan dari percobaan ini ditunjukkan oleh tabel berikut :

Hari/Tanggal

Batang

Hari/Tanggal

Akar

I

II

III

I

II

III

Rabu/6 Mei 2009

2 cm

2 cm

2 cm

Rabu/6 Mei 2009

2 cm

2 cm

2 cm

Kamis/7 Mei 2009

2 cm

2 cm

2 cm

Kamis/7 Mei 2009

2 cm

2 cm

2,6 cm

Jumat/8 Mei

2009

2 cm

2 cm

2 cm

Jumat/8 Mei 2009

2 cm

2 cm

3,1 cm

Senin/11 Mei 2009

2 cm

2 cm

2 cm

Senin/11 Mei 2009

2 cm

2 cm

3,8 cm

Selasa/12 Mei 2009

2 cm

2 cm

2 cm

Selasa/12 Mei 2009

2 cm

2 cm

4,1 cm

IV.2   Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap daerah tumbuh pada akar dan batang kacang merah Phaseolus vulgaris menunjukkan hasil yang signifikan. Hal ini dapat dilihat berdasarkan tabel di atas. Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan sebagai penjelasan dari tebel tersebut.

Dari data hasil pengamatan tersebut, dapat kita lihat bahwa batang dari kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris tersebut tidak mengalami perubahan. Selama 5 hari pengamatan, batang dari kecambah ini tetap pada panjang awal 2 cm dengan interval 2 mm. Akan tetapi karena kesalahan teknik, sehingga untuk akar tanaman I dan akar tanaman II tidak dapat ditentukan perpanjang akarnya. Hal ini disebabkan karena tinta cina yang digunakan menyebar yang mengakibatkan sulitnya untuk menemukan titik awal pengukuran panjang akar. Akan tetapi hal ini tidak menyulitkan praktikan karena untuk akar tanaman ke-III masih dapat ditemukan titik awal pwngukuran panjang akarnya yang juga merupakan pembanding bagi akar-akar lainnya yang tidak dapat diukur lagi.

Pada akar Phaseolus vulgaris yang ke-III inilah yang menjadi pembanding dengan akar-akar lainnya. Untuk hari pertama pertambahan panjang akar tanaman belum terjadi. Untuk hari ke-2, akar tanaman telah bertambah 6 mm dari 2 cm menjadi 2,6 cm. Untuk hari ke-3, akar tanaman bertambah 5 mm dari 3,1 cm menjadi 3,1 cm. Untuk hari ke-4, akar tanaman bertambah 7 mm dari 3,1 cm menjadi 3,8 cm, dan untuk hari ke-5 akar tanaman pun tetap bertambah 3 mm dari 3,8 cm menjadi 4,1 cm.

Adanya perbedaan pertambahan panjang pada akar Phaseolus vulgaris disebabkan karena adanya pengaruh hormon auksin pada meritem apikal akar yang terus membelah dan memanjang yang didukung oleh ruang yang gelap, sehingga memperlancar kerja hormon auksin karena tidak terurai oleh cahaya.

Aktivitas meristem apeks akar mengakibatkan akar tumbuh memanjang yang kemudian disebut pertumbuhan primer. Namun sebenarnya, meristem apikal atau meristem apeks juga terdapat pada bagian ujung batang. Sehingga seharusnya pada batang kecambah juga terjadi pertambahan panjang.

Sedangkan untuk kecambah yang tidak mengalami pertambahan panjang dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya yaitu kemungkinan kesalahan praktikan saat pemasangan kecambah pada plat sehingga terjadi kerusakan jaringan pada kecambah, atau pada saat pemberian cat. Atau faktor lain karena adanya kealahan pengukuran hasil pengamatan oleh praktikan karena alat yang digunakan masih sangat sederhana.


BAB V

PENUTUP

V.1   Kesimpulan

Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada percobaan ini dapat disimpulkan bahwa daerah tumbuh dari batang dan akar dari kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris adalah pada bagian ujung batang dan ujung akar. Karena adanya meristem apikal tepatnya meristem apeks pada bagian tumbuhan tersebut.

V.2   Saran

Sebaiknya praktikan lebih hati-hati dalam pemasangan kecambah pada plat atau pemakaian cat sehingga pertambahan panjang akan lebih maksimal dan kesalahan pengamatan lebih dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell. 1999. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Kaufman, P. B., J. Labavitch, A. A. Prouty, N.S Ghosheh,  1975.  Laboratory Experiment in Plant Physiology. Macmillan Publishing Co., Inc.  New York.

Mada, A., 2008, Menentukan Lokus pada Tumbuhan. http://ayimada006084.files.wordpress.com/. Dikases pada tanggal 3 Mei 2009 pukul 22:49 WITA.

Salisbury, F.B. dan Ross, C.W., 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2. ITB Press. Bandung.

Fajrullah, B., 2009. Jaringan Meristem. http://biologyuniversityofeducation. blogspot.com/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2009 pukul 23:48.

Sean, 2008, Jaringan Pada Tumbuhan, http://stevenfilan.blog.friendster.com/, diakses pada tanggal 3 Mei 2009 pukul 23:48.

Soerga, N., 2009. Pola Pertumbuhan Tanaman. http:// soearga.wordpress.com/. Diakses pada tanggal 3 Mei 2009 pukul 23:48.

Laporan SPL (Study Pengenalan Lapangan) 2007….

•Juni 12, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Laporan Individu

SPL (Studi Pengenalan Lapangan) 2007

“OPTIMALISASI POTENSI

DALAM PIKIR DAN TINDAKAN”

Hildayani

GB Genetika

Himpunan Mahasiswa Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Hasanuddin

Makassar

2007 / 2008

Kata Pengantar

Petama, saya ingin bersyukur terlebih dahulu terhadap Allah swt karena dengan kesempatan diberikan olehNya sehingga saya dapat mengikuti SPL ’07 dan dapat menyelesaikan laporan ini. Selain itu tidak lupa rasa terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan untuk para kanda senior yang telah membantu kami selama SPL berlangsung.

Saya menyadari bahwa laporan ini ini pasti masih memiliki banyak kekurangan karena saya hanya seorang mahasiswa baru masih membutuhkan masukan sumbang saran serta bimbingan dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Oleh karena itu, saya mohon bimbingan terutama dari para senior.

Akhir kata, semoga laporan ini dapat sedikit menambah gambaran kita tentang SPL ’07 itu sendiri.

Makassar, Januari 2008

Penulis

I. Pendahuluan

  1. Latar belakang

Latar Belakang diadakannya Studi Pengenalan Lapangan atau SPL adalah pertama berdasarkan pada tridharma perguruan tinggi yaitu “Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat”.

Kedua, yaitu melihat alam yang merupakan kajian utama Biologi. Biologi merupakan ilmu yang mempelajari makhluk hidup dan lingkungan di sekitar makhluk hidup itu sendiri. Pada perkuliahan Biologi berikutnya, mahasiswa akan dituntut untuk menghadapi lingkungan makhluk hidup tersebut secara langsung. Oleh karena itu SPL diadakan, agar para mahasiswa baru mempunyai modal saat berikutnya menghadapi lapangan sesungguhnya.

Ketiga, yaitu tercantum pada AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin. Dan yang terakhir karena SPL akan mempererat hubungan antara mahasiswa lama dan mahasiswa baru.

Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang diadakannya SPL atau Studi Pengenalan Lapangan ini.

  1. Tujuan

Tujuan dari diadakannya SPL yaitu :

  1. Sebagai bentuk pengkaderan awal dari Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
  2. Untuk meningkatkan kapasitas kader dengan membentuk pola piker yang cerdas, kreatif, dan cepat tanggap.
  3. Untuk membina keakraban antara mahasiswa baru dengan mahasiswa lama dan saling bekerja sama dalam aplikasi ilmu Biologi.
  1. Waktu dan Tempat

SPL (Studi Pengenalan Lapangan) 2007 ini diadakan pada Hari Jum’at, 11 Januari 2008 sampai dengan Hari Minggu,13 Januari 2008. Dan diadakan di Cammado, Desa Benteng, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan.

II. Data dan Pembahasan

  1. Aspek Botani

Botani adalah kajian saintifik untuk kehidupan tumbuhan. Sebagai satu cabang biologi, botani kadang kala dirujuk sebagai sains tumbuhan atau biologi tumbuhan. Botani merangkumi berbagai-bagai disiplin saintifik yang mengkaji struktur, pertumbuhan, pembiakan, metabolisme, perkembangan, penyakit, ekologi, dan evolusi tumbuhan. Berikut ini akan dijelaskan varietas tumbuhan di sekitar lokasi SPL.

Dimulai dari Pos Genetika yang selama perjalanannya kami harus melalui tanah berlumpur, pos ini berada di bawah pohon yang rimbun sehingga tanahnya sulit mendapatkan sinar matahari. Tanah berlumpur tersebut lebih didominasi oleh tanaman Sukun (Artocarpus altilis), yang merupakan tanaman tropik sejati.

Tumbuhan ini tumbuh baik di daerah basah, tetapi juga dapat tumbuh di daerah yang sangat kering dengan air tanah dan aerasi tanah yang cukup.

Berikutnya ketika kami berjalan ke arah Pos Lingkungan dan Kelautan, kami harus melalui jalan yang menanjak. Ketika kami berdiri di bawah tanjakan, kami memperhatikan ternyata vegetasi tanaman daerah tersebut semakin menanjak daun tumbuhannya akan semakin lebar. Terutama ketika kami sampai pada Pos Lingkungan dan Kelautan yang tepat berada di dataran tinggi. Pos Lingkungan dan Kelautan didominasi oleh Pohon Jati (Tectona grandis).

Tumbuhan yang hidup pada musim kering yang nyata namun tidak terlalu panjang dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun.

Setelah Pos Lingkungan Dan Kelautan, kami kemudian berjalan ke arah Pos Zoologi, jalan yang kami lalui tidak jauh beda dengan jalan yang sebelumnya kami lewati untuk menuju ke pos Lingkungan dan Kelautan, namun jalannya menurun. Sama halnya dengan pos Genetika, pos Zoologi juga lebih didominasi oleh tanaman Sukun karena struktur tanahnya yang lembab dan berlumpur. Tanaman Sukun merupakan tanaman yang baik dikembangkan di dataran rendah hingga ketinggian 1200 m dpl yang bertipe iklim basah. Tanaman sukun relatif toleran terhadap pH rendah, relatif tahan kekeringan, dan tahan naungan. Di tempat yang mengandung batu karang dan kadar garam agak tinggi serta sering tergenang air, tanaman sukun masih mampu tumbuh dan berbuah.

Berikutnya adalah Pos Mikrobiologi yang tepat berada di tengah sungai yang merupakan terusan air terjun kecil. Pada Pos ini tumbuhan yang mendominasi adalah pohon-pohon besar yang rimbun karena melihat tempat itu yang berada di pinggir sungai. Sehingga tanamannya mudah mendapatkan pasokan air. Selain itu, melihat arus sungai yang cukup deras, komunitas tumbuhan yang dapat bertahan adalah ganggang yang melekat pada batu dan tumbuhan berakar kuat. Sehingga komunitas tersebut tidak mudah terbawa arus sungai.

Pos terakhir adalah Pos Botani, yang berlokasi di daerah yang agak tinggi sehingga mendapatkan sinar matahari yang lebih dibandingkan pos lain. Melihat kondisi pos ini yang agak gersang, kami tidak mendapati komunitas pohon tinggi seperti yang kami dapati di pos-pos sebelumnya. Sehingga pos ini lebih didominasi oleh tanaman-tanaman jenis semak dan berukuran kecil, dengan daun yang mayoritas berbulu dan batang bergetah.

  1. Aspek Zoologi

Dalam perjalanan kami ke Pos Genetika, Mikrobiologi dan Botani, hewan yang sering kami temukan adalah Julus nomerensis (kaki seribu) berwarna hitam.

Julus termasuk dalam Kelas Diplopoda, Julus hidup di tempat yang lembab dan gelap dan banyak mengandung tumbuhan yang telah membusuk.

Hewan ini memiliki Tubuh berbentuk silindris dan beruas-ruas (25 – 100 segmen) terdiri atas kepala dan badan. Setiap segmen (ruas) mempunyai dua pasang kaki, dan tidak mempunyai “taring bisa” (maksiliped). Pada ruas ke tujuh, satu atau kedua kaki mengalami modifikasi sebagai organ kopulasi. Pada kepala terdapat sepasang antena yang pendek, dua kelompok mata tunggal. Respirasi dengan trakea yang tidak bercabang. Alat eksresi berupa dua buah saluran malphigi.

Kemudian ketika kami mencari sample tumbuhan saat berjalan ke arah pos Lingkungan Dan Kelautan, kami menemukan banyak daun tumbuhan yang berlubang. Dan pada saat meninggalkan pos tersebut, kami mendapatkan seekor kumbang di atas daun yang mengalami kerusakan. Kami mengira kumbang tersebut merupakan Kumbang Pemakan Daun (Maleuterpes dentipes) dari Ordo Coleoptera dan Famili Buprestidae.

Kumbang dewasa umumnya menyerang daun-daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah dengan meninggalkan lubang-lubang bekas gerekan. Kumbang tidak menyerang daun-daun muda. Serangan berat mengakibatkan daun gugur dan ranting-ranting muda mati. Larva menyerang kulit akar muda sehingga tinggal bagian kayunya. Pada perakaran yang lebih tua serangan meninggalkan bekas lubang-lubang kecil.

Kemudian saat berada di Pos Zoologi, varietas hewan yang mendominasi adalah berbagai macam serangga. Seperti rayap, nyamuk dan serangga kecil lainnya. Ini karena dip Pos Zoologi banyak kayu lapuk yang lembab sehingga menjadi habitat terbaik bagi serangga kecil dan semut.

  1. Aspek Genetika

Genetika merupakan cabang biologi yang mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme. Bidang kajian genetika dimulai dari wilayah molekular hingga populasi. Secara lebih rinci, genetika berusaha menjelaskan material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik), bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan genetik).

Karena adanya ekspresi genetik yang berbeda, terdapat berbagai macam varietas dari jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan di lokasi hiking ini. Sebagai contoh saat berjalan ke Pos Genetika, kami menemukan Julus nomerensis (kaki seribu) berwarna hitam. Namun ketika berikutnya kami berada di Pos Mikrobiologi dan Pos Botani, kami menemukan Julus berwarna kuning. Kami juga sempat menemukan julus berwarna merah dalam perjalanan ke Pos Mikrobiologi.

  1. Aspek Mikrobiologi

Melihat keterbatasan peralatan kami, kami belum bisa menjelaskan secara detail aspek mikrobiologi di lokasi SPL ini. Namun secara umum, dapat dikatakan bahwa lokasi yang berlumpur dan lembab merupakan habitat yang baik untuk mikroorganisme. Saat hiking mulai dari pos Genetika hingga Botani, mikroorganisme yang paling mudah kami dapatkan yaitu Daphnia pulex. Karena ketika kami melakukan perjalanan, kami memutuskan terus melanjutkannya walaupun dalam keadaan hujan. Sehingga kaki kami yang terus terbungkus sepatu menjadi terus lembab dan basah yang kemudian memungkinkan Kutu air berkembang.

Daphnia seringkali dikenal sebagai kutu air karena kemiripan bentuk dan cara bergeraknya yang menyerupai seekor kutu.  Pada kenyataannya Daphnia termasuk dalam golongan udang-udangan dan tidak ada hubungannya dengan kutu secara taxonomi.  Daphnia merupakan udang-udangan renik air tawar dari golongan Brachiopoda.

Daphnia telah beradaptasi pada kehidupan badan perairan yang secara periodik mengalami kekeringan.  Oleh karena itu, dalam perkembangbiakannya dapat dihasilkan telur berupa kista maupun anak yang “dilahirkan”.  Telur berupa kista ini dapat bertahan sedemikian rupa terhadap kekeringan dan dapat tertiup angin kemana-mana, sehingga tidak mengherankan ketika dalam genangan air disekitar lokasi ditemukan Daphnia.

  1. Aspek Lingkungan dan Kelautan

SPL 2007 diadakan tepat saat musim penghujan sehingga tanah di lokasi SPL menjadi berlumpur dan lembab. Seperti pada Pos Genetika Zoologi dan Pos Mikrobiologi yang berada tepat di tengah sungai terusan dari air terjun kecil. Kawasan tanah lembab sendiri merupakan suatu kawasan “marsh” atau “fern”, kawasan yang berair sejak awal atau buatan, kekal atau sementara dengan air static atau mengalir (bergerak). Ekosistem tanah lembab yang sentiasa ditenggelami air ini merupakan satu ekosistem yang sangat istemewa. Dalam ekosistem ini lantai hutan ditutupi dengan dedaun ranting dan pokok-pokok mati, ini membuat permukaan tanah di kawasan ini lembut dan berlumpur.

Fungsi tanah lembab sendiri ialah sebagai jambatan penghubung yang menghubungkan ekosistem akuatik (air) dan terrestrial (darat) melalui kitaran berlanjutan air yang dihadang melalui darat, laut dan atmosfera. Proses penting air ini membantu mengawal kualiti dan kuantiti air serta mengekalkan fungsi system ekologi. Fungsi tanah lembab tersebut mewujudkan kawasan kehidupan bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan vertebrata.

Kemudian pada pos Lingkungan dan Kelautan yang didominasi oleh Pohon Jati. Pada pos ini kumpulan Jati seolah-olah menjadi hutan homogen, ini terjadi karena guguran daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat, sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Melihat kondisi yang seperti ini, lokasi Pos Lingkungan dan Kelautan memiliki kemungkinan besar untuk mengalami kebakaran. Hal tersebut karena .Guguran jati juga dapat memicu kebakaran yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak oleh banyak jenispohon lain. Namun, ternyata kebakaran hutan yang tidak terlalu besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati. Ini dapat terjadi ketika daerah itu beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan mudah terjadi dan sebagian besar jenis pohon akan mati pada saat itu.

Selain kebakaran, tempat pos Lingkungan yang berada di dataran tinggi memiliki kemungkinan untuk mengalami erosi tanah karena kumpulan Pohon Jati yang berbentuk hutan homogen. Tajuk jati rakus cahaya matahari sehingga cabang-cabangnya sulit bersentuhan. Perakaran jati juga tidak tahan bersaing dengan perakaran tanaman lain. Dengan demikian, serasah tanah cenderung tidak banyak. Tanpa banyak tutupan tumbuhan pada lantai hutan, lapisan tanah teratas lebih mudah terbawa oleh aliran air dan tiupan angin.

Pos Botani sendiri memiliki lingkungan yang sering berinteraksi dengan sinar matahari karena kurangnya pohon tinggi. Sehingga berbeda dengan tanah pos lain yang berlumpur dan lembab, pos Botani terkesan agak gersang.

  1. Kesimpulan

SPL merupakan bentuk awal pengkaderan HIMBIO Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin yang akan membentuk seorang kader dengan pola pikir cerdas, kreatif, dan cepat tanggap. Dan juga akan membentuk serta membina keakraban antara mahasiswa baru dan mahasiswa lama dengan saling bekerja sama dalam aplikasi ilmu biologi.

  1. Saran

Akan lebih baik jika setiap kegiatan Pra SPL yaitu berupa pengumpulan digunakan untuk hal-hal yang lebih penting dan bermanfaat untuk SPL. Karena kami merasa pengumpulan terlalu awal diadakan namun kegiatan penting baru dimulai saat pengumpulan beberapa minggu sebelum SPL. Selain itu, saat pengumpulan sebaiknya lebih dilengkapi dengan kegiatan mengasah kecerdasan peserta.

Lampiran

Gambar Sampel

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan : Plantae

Divisio      : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Lamiales

Familia : Verbenaceae

Genus : Tectona

Spesies : Tectona grandis

Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dan dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Memiliki daun yang lebar, yang luruh di musim kemarau. Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini berasal dari kata thekku dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis.

Pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18-20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang.

Pohon jati (Tectona grandis sp.) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter.

Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun.

Daun umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm; sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan getah berwarna merah darah apabila diremas. Ranting yang muda berpenampang segi empat, dan berbonggol di buku-bukunya.

Bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting; jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, 8 mm. Berumah satu.

Buah berbentuk bulat agak gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi umumnya hanya satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang melembung menyerupai balon kecil.

Jati menyebar luas mulai dari India, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Indochina, sampai ke Jawa. Jati tumbuh di hutan-hutan gugur, yang menggugurkan daun di musim kemarau.

Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 – 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl.

Tegakan jati sering terlihat seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan hanya terdiri dari satu jenis pohon.

Apabila terjadi kebakaran lahan di daerah beriklim muson yang begitu kering, kemudian sebagian besar jenis pohon mati. Tidak demikian dengan jati. Pohon jati termasuk spesies pionir yang tahan kebakaran karena kulit kayunya tebal. Lagipula, buah jati mempunyai kulit tebal dan tempurung yang keras. Sampai batas-batas tertentu, jika terbakar, lembaga biji jati tidak rusak. Kerusakan tempurung biji jati justru memudahkan tunas jati untuk keluar pada saat musim hujan tiba.

Guguran daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat, sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Guguran itu juga mendapat bahan bakar yang dapat memicu kebakaran yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak oleh banyak jenis pohon lain. Demikianlah, kebakaran hutan yang tidak terlalu besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati.

Tanah yang sesuai adalah yang agak basa, dengan pH antara 6-8, sarang (memiliki aerasi yang baik), mengandung cukup banyak kapur (Ca, calcium) dan fosfor (P). Jati tidak tahan tergenang air. Lanjutkan membaca ‘Laporan SPL (Study Pengenalan Lapangan) 2007….’

Hello world!

•Juni 12, 2009 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!