Laporan OP -Oseanologi Pendahuluan-

LAPORAN PRAKTIKUM

OSEANOLOGI PENDAHULUAN

PENGAMATAN DAERAH MUARA

SUNGAI JENEBERANG

NAMA                           : HILDAYANI

NIM                               : H41107025

KELOMPOK                 : III (TIGA)

TGL. PERCOBAAN      : 22 MEI 2008

ASISTEN                       : NUR INSANA IMANIAR

LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2008

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Lautan merupakan suatu tempat mata pencaharian bagi orang-orang Asia Tenggara yang telah berumur berabad-abad lamanya. Tidak dimana pun juga hal ini benar-benar dapat dilihat di Indonesia di mana negara ini terdiri dari lebih kurang 13.000 pulau yang tersebar. Sejak dahulu lautan telah memberi manfaat kepada manusia untuk dipergunakan sebagai suatu sarana untuk bepergian, perniagaan, dan perhubungan dari suatu tempat ke tempat lain (Hutabarat dan Evans, 1985).

Indonesia sendiri merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau yang membentang 5.120 km dari timur ke barat sepanjang khatulistiwa dari 1.760 km dari utara ke selatan. Di lain pihak arah pembangunan nasional yang selama ini lebih berorientasi ke arah daratan yang menyebabkan terabaikannya potensi dan keberadaan sumberdaya laut terutama sumberdaya hayati sehingga pulau-pulau kecil yang berjumlah lebih dari 10.000 buah selama ini kurang mendapat sentuhan pembangunan karena sumberdaya alam daratannya sangat terbatas. Padahal dilihat secara fisik, kawasan perairan pulau kecil justru memiliki sumberdaya kelautan yang melimpah yang dapat dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata bahari (Litaay, dkk, 2008).

Bagaimanapun juga efisiensi dalam mengelola sumber-sumber alam akan sangat bergantung kepada pengetahuan dan pengertian tentang lautan itu sendiri. Sayangnya, lautan merupakan suatu bahan penelitian yang kurang diperhatikan bila dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan di daratan. Maka berdasarkan hal inilah  dilakukan pengamatan  ini.

I.2 Tujuan percobaan

Adapun tujuan dari pengamatan ini antara lain:

  1. Untuk mengetahui keadaan fisik, kima, dan biologi daerah muara Sungai Jeneberang.
  2. Untuk mengetahui salinitas air laut dari Sungai Jeneberang dan organisme-organisme yang hidup di sekitarnya.

I.3 Waktu dan Tempat

Pengamatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 20 Mei 2008, pukul 10.00 – 12.00 WITA, bertempat di daerah muara sungai Jeneberang, pantai Barombong, Makassar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Laut merupakan kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas yang terlarut, bahan-bahan organik, dan partikel-partikel tidak terlarut. Sifat-sifat fisis air laut ditentukian oleh 96,5% air murni (Tim Dosen, 2008).

Ciri paling khas pada air laut yang diketahui semua orang ialah rasanya yang asin. Ini disebabkan karena di dalam air laut terlarut bermacam-macam garam, yang paling utama adalah raram natrium klorida (NaCl) yang sering pula disebut garam dapur. Selain garam-garam klorida, di dalam laut terdapat pula garam-garam magnesium, kalsium, kalium dan sebagainya. Dalam literature oseanologi dikenal istilah salinitas yang maksudnya ialah jumlah berat semua garam (dalam gram) yang terlarut dalam satu liter air (Nontji, 1993).

Konsentarsi garam-garam ini jumlahnya relative sama dalam setiap contoh-contoh air laut, sekalipun air laut diambil dari tempat yang berbeda diseluruh dunia. Oleh karena itu tidak perlu mengukur seluruh salinitas dari setiap contoh-contoh air laut, dalam hal ini cukup menghitung salinitas panda satu daerah saja dan dari hasil pengukuran ini dapat dipakai untuk menentukan salinitas dari daerah-daerah yang lain (Tim Dosen, 2008).

Diperairan samudra, salinitas biasanya berkisar antara 34-35‰. Diperairan pantai karena terjadi pengenceran, misalnya karena pengaruh aliran sungai, salinitas biasanya turun rendah. Sebaliknya di daerah dengan penguapan yang sangat kuat, salinitas biasanya meningkat tinggi. Air payau merupakan istilah umum yang digunakan untuk menyatakan air yang salinitasnya antara air tawar dan air laut. Ada berbagai cara dan istilah yang digunakan untuk memberi nama air berdasarkan salinitasnya. Salah satu misalnya menurut Valikangas dapat disederhanakan seperti air tawar (0-0,5‰), air payau (0,5-17‰) dan air laut (lebih dari 17‰) (Nontji, 1993).

Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine. Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil pengendapan oleh air laut, antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang pantai. Pesisir merupakan wilayah pengendapan di sepanjang pantai, biasanya terdiri dari material pasir (anonim, 2005).

Ukuran dan komposisi material di pantai sangat bervariasi tergantung pada perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut. Arus pantai mengangkut material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjadi perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material material ke laut yang dalam. Ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi pengendapan material. Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang ada di atas permukaan laut. Akumulasi material itu disebut spit. Jika arus pantai terus berlanjut, spit akan semakin panjang. Kadang kadang spit terbentuk melewati teluk dan membetuk penghalang pantai atau barrier beach (anonim, 2005).

Perubahan salinitas mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, sehingga ikan melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik internalnya agar proses fisiologis di dalam tubunhnya dapat bekerja secara normal kembali. Apabila salinitas bertambah tinggi, ikan berupaya terus agar kondisi homeostasis dalam tubuhnya tercapai, hingga panda batas toleransi yang dimilikinya. Kerja osmotik itu memerlukan energi yang lebih tinggi pula. Hal tersebut juga berpengaruh kepada waktu kenyang (satiation time) dari ikan  (Anonim, 2007).

Ada berbagai cara untuk menentukan salinitas, baik secara kimia maupun fisika. Salah satu alat yang paling populer untuk mengukur salinitas dengan ketepatan yang tinggi ialah salinometer yang bekerjanya didasarkan  pada hantar listrik. Makin besar salinitas, makin besar pula daya hantar listriknya. Selain itu telah dikembangkan pula  alat STD (Salinity-Temperature Depth Recorder) yang apabila diturunkan ke dalam air laut dapat dengan otomatis membuat kurva salinitas dan suhu terhadap ke dalaman di lokasi tersebut (Nontji, 1993).

Sebaran salinitas air laut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu (Tim Dosen, 2008):

a. Pola sirkulasi air

Pola sirkulasi air adalah gerakan mengalirnya suatu massa air. Pristiwa ini terjadi karena adanya angin, perbedaan densitas, gerakan gelombang dan adanya pasang surut. Akibat dari peristiwa ini dapat menyebabkan salinitas air laut meningkat atau menurun.

b. Aliran sungai

Daerah perairan yang dekat dengan muara sungai akan mempunyai kadar salinitas rendah karena adanya sejumlah air tawar yang berasal dari sungai mengalir ke laut.

c. Penguapan air

Pada musim panas dipermukaan air laut salinitasnya akan tinggi karena terjadi penguapan (jumlah air berkurang), contoh diperairan Laut Mediterania dan laut merah salinitasnya kadang-kadang mencapai 39-41, hal ini disebabkan karena banyaknya air yang hilang akibat dari besarnya penguapan yang terjadi pada waktu musim panas yang panjang.

d. Curah hujan

Pada musim hujan salinitas air laut akan menurun secara tajam karena besarnya curah hujan (jumlah air bertambah).

Dalam suatu proses sedimentasi, zat-zat yang masuk ke laut berakhir menjadi sedimen. Dalam hal ini zat yang ada terlibat proses biologi dan kimia yang terjadi sepanjang kedalaman laut. Sebelum mencapai dasar laut dan menjadi sedimen, zat tersebut melayang-layang di dalam laut. Setelah mencapai dasar lautpun , sedimen tidak diam tetapi sedimen akan terganggu ketika hewan laut dalam mencari makan. Sebagian sedimen mengalami erosi dan tersusfensi kembali oleh arus bawah sebelum kemudian jatuh kembali dan tertimbun. Terjadi reaksi kimia antara butir-butir mineral dan air laut sepanjang perjalannya ke dasar laut dan reaksi tetap berlangsung penimbunan, yaitu ketika air laut terperangkap di antara butiran mineral.

Di dalam lautan terjadi proses sedimentasi yang merupakan akumulasi dari mineral-mineral dan pecahan-pecahan batuan yang  bercampur dengan cangkang dan tulang dari organisme laut serta beberapa partikel lain yang terbentuk  lewat proses kimia yang terjadi di laut. Pettijohn (1975) mendefinisikan sedeimentasi sebagai proses pembentukan sedimen atau batuan sedimen yang diakibatkan oleh pengendapan dari material pembentuk atau asalnya pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan pengendapan berupa sungai, muara, danau, delta, estuaria, laut dangkal sampai laut dalam. Sedimen yang dijumpai di dasar lautan  berasal dari beberapa sumber yang menurut Reinick dibedakan menjadi empat yaitu (Widada, 2002):

a)       Lithougenus sedimen yaitu sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material       hasil erosi daerah up land.  Material ini dapat sampai didasar  laut melalui proses mekanik, yaitu tertransport oleh arus sungai atau arus laut dan akan terendapkan jika energi pentransport telah melemah.

b)       Biogeneuos sedimen yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup seperti cangkang  dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi.

c)       Hidrogenous sedimen yaitu sedimen yangb terbentuk karena adanya reaksi kimia di dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak larut dalam air laut sehingga akan tenggelam ke dasar laut, sebagai contoh sedimen ini adalah magnetik, phosphorit, dan glaukonit.

d)       Cosmogerous sedimen yaitu sedimen yang berasal dari  berbagai sumber dan masuk ke laut melalui jalur media udara/angin. Sedimen ini dapat bersumber dari luar angkasa, aktivitas gunung api atau berbagai partikel darat yang terbawa angin.

Sedimen laut dalam dapat dibagi menjadi 2 yaitu sedimen terigen pelagis dan sedimen biogenik pelagis (Widada, 2002):

a. Sedimen Biogenik Pelagis

Dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa sedimen biogenik terdiri atas berbagai struktur halus dan kompleks. Kebanyakan sedimen-sedimen itu berupa sisa-sisa fitoplankton dan zooplankton laut. Karena umur organisme plankton hanya satu atau dua minggu, terjadi suatu bentuk hujan sisa-sisa sedimen. Pembentukan sedimen ini tergantung pada beberapa faktor lokal seperti kimia air dan kedalaman serta jumlah produksi primer di permukaan air laut. Jadi, keberadaan mikrofil dalam sedimen laut dapat digunakan  untuk menentukan kedalaman air dan produktivitas permukaan laut pada zaman dulu.

b. Sedimen Terigen Pelagis

Hampir semua sedimen terigen di lingkungan pelagis terdiri atas materi-materi yang berukuran sangat kecil. Ada dua cara materi tersebut sampai dilingkungan pelagis. Pertama dengan bantuan arus turbiditas dan aliran grafitasi. Kedua melalui gerakan es yaitu materi glasial yang di bawa oleh bongkahan es ke laut lepas dan mencair. Bongkahan es besar yang mengapung, bongkahan es kecil dan pasir dapat ditemukan pada sedimen pelagis yang berjarak beberapa ratus kilometer dari daerah gletser atau tempat asalnya.

TEKSTUR BATUAN SEDIMEN

Sebagian besar batuan sedimen dibedakan dari batuan lain karena tersusun oleh butiran hasil rombakan batuan lain yang lebih tua, butiran-butirannya mempunyai kontak tangensial yang membentuk lubang-lubang bila dilihat dalam rangkaian tiga dimensi (Anonim, 2007):

  1. Tekstur Klastik

untuk mendiskripsikan tekstur klastik kenampakan yang perlu diperhatikan adalah ukuran dan tingkat keseragaman partikel serta bentuk (Anonim, 2007):

  1. Ukuran dan tingkat keseragaman partikel

Ukuran butir sedimen merupakan faktor penting dalam penamaan batuan sedimen, klasifikasi yang digunakan biasanya adalah klasifikasi Wentworth. Tingkat keseragaman butir atau sortasi merupakan tingklat kopentensi dan efisiensi media pengangkutnya, di bedakan menjadi Very well sorted, Well sorted, Moderately sorted, Very poorly sorted.

  1. Bentuk

Dalam mendiskripsikan bentuk partikel, dua sifat harus dibedakan yaitu Spericity dan Roundness. Sphericity adalah pendekatan setiap individu partikel ke bentuk bola, sepenuhnya tergantung pada bentuk asli partikel, sedanglan abrasi merupakan faktor minor. Istilah deskriptif paling bagus dipakai untuk partikel pasir atau yang lebih kasar berdasarkan diameter maximum, minimum dan intermedit. Ada empat bentuk dasar yang dipakai yaitu equant, tabular, prolate, dan bladed.
Roundness adalah suatu ukuran adanya abrasi yang menyebabkan proses pembundaran pada sudut-sudut atau ujung-ujung fragmen. Istilah kualitas yang dipakai yaitu angular, subangular, subrounded, rounded, dan well rounded.
2.   Tekstur Non Klastik

Tekstur non klastik terutama dihasilkan oleh presipitasi kimiawi dan aktifitas organisme. Contoh-contoh batuannya adalah (Anonim, 2007):

  • Evaporit yaitu batuan hasil penguapan garam batu, anhidrit, gips, garam kali dan lain-lain.
  • Sedimen organik, sisa-sisa dari zat-zat hidup misal gambut
  • Sedimen silika misal nodul dan konkresi

BAB III

METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah botol sampel (1 buah), salinometer (1 buah), alat pengukuran DO meter (1 buah), pipet tetes (1 buah), dan gelas kimia (1 buah).

III. 2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sampel air laut.

III. 3 Cara Kerja

1. Di Lapangan (Pengambilan air laut dan hewan bentos)

1. Menyediakan botol sampel sebagai wadah air laut yang akan diuji kadar

salinitasnya.

2. Pengamat kemudian berenang ke laut dan menyelam untuk mencari hewan-hewan

bentos yang ada pada ekosistem laut tersebut.

3. Mengambil air laut dan memasukkannya ke dalam botol sampel yang telah

disediakan.

2. Di Laboratorium

a. Pengukuran Salinitas

1. Meneteskan beberapa tetes air laut pada alat ukur salinometer.

2. Melihat penunjukan angka pada alat ukur salinometer kemudian dicatat pada

lembar pengamatan.

b. Pengukuran DO (Dissolved Oxygen)

1. Mencelupkan alat DO meter pada air laut yang dituang dalam gelas kimia.

2. Melihat angka yang tertera pada alat DO meter kemudian mencatat hasil yang diperoleh pada lembar pengamatan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil Pengamatan

IV.1.1 Hasil Pengamatan Lapangan

Aspek

Keterangan

Kimia

Air laut terdiri dari campuran 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik, dan partikel-partikel tidak larut.

Biologi

Terdapat bentos berupa kerang-kerangan (bivalvia), lamun (seagrass), kaloman, dan bintang laut.

Fisika

Memiliki lingkungan muara, terbentuk dari pasir, dan dapat dimanfaatkan untuk pelabuhan tetapi memerlukan dermaga yang panjang.

IV.1.2 Hasil Pengukuran

Pengukuran

Alat

Hasil (‰)

Salinasi

Salinometer

3,5

DO

DO meter

5,5

BAB V

PENUTUP

V. 1 Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil pengamatan, kesimpulan dari percobaan ini adalah :

  1. Keadaan fisik daerah muara Sungai Jeneberang merupakan lingkungan muara yang terbentuk dari pasir. Kemudian dari segi kimia, air lautnya terdiri atas air murni dan material seperti garam, gas terlarut, bahan organik, dan partikel tidak larut. Sedangkan dari faktor biologi, terdiri atas bentos yang berupa kerang, lamun, dan binatang laut.
  2. Sedimen dari muara Sungai Jeneberang termasuk sedimen litogeneus.

V.2 Saran

Sebaiknya percobaan dalam laboratorium dilakukan oleh praktikan, agar praktikan lebih paham cara penggunaannya. Dan saat percobaan di lapangan, para praktikan lebih diawasi agar lebih maksimum dalam pengamatan dan pengambilan sampel.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2005, Sedimentasi, http://e-dukasi.net/, diakses pada tanggal 29 Mei 2008 pukul 22:51.

Anonim, 2007, Break Water, tentang sedimen, http://www.rageagainst.multiply.com/, diakses pada tanggal 29 Mei 2008 pukul 23:23.

Anonim, 2007, Wilayah Pesisir Pantai, http://mgi.esdm.go.id./, diakses pada tanggal 29 Mei 2008 pukul 23:23.

Nontji, A., 1993, Laut Nusantara, Djambatan, Jakarta.

Tim Dosen, 2008, Oseanologi Pendahuluan, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Widada, S., 2002, Modul Mata Kuliah, Universitas Diponegoro, Semarang.

~ oleh hildayani pada Juni 12, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: