Laporan SPL (Study Pengenalan Lapangan) 2007….

Laporan Individu

SPL (Studi Pengenalan Lapangan) 2007

“OPTIMALISASI POTENSI

DALAM PIKIR DAN TINDAKAN”

Hildayani

GB Genetika

Himpunan Mahasiswa Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Hasanuddin

Makassar

2007 / 2008

Kata Pengantar

Petama, saya ingin bersyukur terlebih dahulu terhadap Allah swt karena dengan kesempatan diberikan olehNya sehingga saya dapat mengikuti SPL ’07 dan dapat menyelesaikan laporan ini. Selain itu tidak lupa rasa terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan untuk para kanda senior yang telah membantu kami selama SPL berlangsung.

Saya menyadari bahwa laporan ini ini pasti masih memiliki banyak kekurangan karena saya hanya seorang mahasiswa baru masih membutuhkan masukan sumbang saran serta bimbingan dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Oleh karena itu, saya mohon bimbingan terutama dari para senior.

Akhir kata, semoga laporan ini dapat sedikit menambah gambaran kita tentang SPL ’07 itu sendiri.

Makassar, Januari 2008

Penulis

I. Pendahuluan

  1. Latar belakang

Latar Belakang diadakannya Studi Pengenalan Lapangan atau SPL adalah pertama berdasarkan pada tridharma perguruan tinggi yaitu “Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat”.

Kedua, yaitu melihat alam yang merupakan kajian utama Biologi. Biologi merupakan ilmu yang mempelajari makhluk hidup dan lingkungan di sekitar makhluk hidup itu sendiri. Pada perkuliahan Biologi berikutnya, mahasiswa akan dituntut untuk menghadapi lingkungan makhluk hidup tersebut secara langsung. Oleh karena itu SPL diadakan, agar para mahasiswa baru mempunyai modal saat berikutnya menghadapi lapangan sesungguhnya.

Ketiga, yaitu tercantum pada AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin. Dan yang terakhir karena SPL akan mempererat hubungan antara mahasiswa lama dan mahasiswa baru.

Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang diadakannya SPL atau Studi Pengenalan Lapangan ini.

  1. Tujuan

Tujuan dari diadakannya SPL yaitu :

  1. Sebagai bentuk pengkaderan awal dari Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMBIO) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
  2. Untuk meningkatkan kapasitas kader dengan membentuk pola piker yang cerdas, kreatif, dan cepat tanggap.
  3. Untuk membina keakraban antara mahasiswa baru dengan mahasiswa lama dan saling bekerja sama dalam aplikasi ilmu Biologi.
  1. Waktu dan Tempat

SPL (Studi Pengenalan Lapangan) 2007 ini diadakan pada Hari Jum’at, 11 Januari 2008 sampai dengan Hari Minggu,13 Januari 2008. Dan diadakan di Cammado, Desa Benteng, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Propinsi Sulawesi Selatan.

II. Data dan Pembahasan

  1. Aspek Botani

Botani adalah kajian saintifik untuk kehidupan tumbuhan. Sebagai satu cabang biologi, botani kadang kala dirujuk sebagai sains tumbuhan atau biologi tumbuhan. Botani merangkumi berbagai-bagai disiplin saintifik yang mengkaji struktur, pertumbuhan, pembiakan, metabolisme, perkembangan, penyakit, ekologi, dan evolusi tumbuhan. Berikut ini akan dijelaskan varietas tumbuhan di sekitar lokasi SPL.

Dimulai dari Pos Genetika yang selama perjalanannya kami harus melalui tanah berlumpur, pos ini berada di bawah pohon yang rimbun sehingga tanahnya sulit mendapatkan sinar matahari. Tanah berlumpur tersebut lebih didominasi oleh tanaman Sukun (Artocarpus altilis), yang merupakan tanaman tropik sejati.

Tumbuhan ini tumbuh baik di daerah basah, tetapi juga dapat tumbuh di daerah yang sangat kering dengan air tanah dan aerasi tanah yang cukup.

Berikutnya ketika kami berjalan ke arah Pos Lingkungan dan Kelautan, kami harus melalui jalan yang menanjak. Ketika kami berdiri di bawah tanjakan, kami memperhatikan ternyata vegetasi tanaman daerah tersebut semakin menanjak daun tumbuhannya akan semakin lebar. Terutama ketika kami sampai pada Pos Lingkungan dan Kelautan yang tepat berada di dataran tinggi. Pos Lingkungan dan Kelautan didominasi oleh Pohon Jati (Tectona grandis).

Tumbuhan yang hidup pada musim kering yang nyata namun tidak terlalu panjang dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun.

Setelah Pos Lingkungan Dan Kelautan, kami kemudian berjalan ke arah Pos Zoologi, jalan yang kami lalui tidak jauh beda dengan jalan yang sebelumnya kami lewati untuk menuju ke pos Lingkungan dan Kelautan, namun jalannya menurun. Sama halnya dengan pos Genetika, pos Zoologi juga lebih didominasi oleh tanaman Sukun karena struktur tanahnya yang lembab dan berlumpur. Tanaman Sukun merupakan tanaman yang baik dikembangkan di dataran rendah hingga ketinggian 1200 m dpl yang bertipe iklim basah. Tanaman sukun relatif toleran terhadap pH rendah, relatif tahan kekeringan, dan tahan naungan. Di tempat yang mengandung batu karang dan kadar garam agak tinggi serta sering tergenang air, tanaman sukun masih mampu tumbuh dan berbuah.

Berikutnya adalah Pos Mikrobiologi yang tepat berada di tengah sungai yang merupakan terusan air terjun kecil. Pada Pos ini tumbuhan yang mendominasi adalah pohon-pohon besar yang rimbun karena melihat tempat itu yang berada di pinggir sungai. Sehingga tanamannya mudah mendapatkan pasokan air. Selain itu, melihat arus sungai yang cukup deras, komunitas tumbuhan yang dapat bertahan adalah ganggang yang melekat pada batu dan tumbuhan berakar kuat. Sehingga komunitas tersebut tidak mudah terbawa arus sungai.

Pos terakhir adalah Pos Botani, yang berlokasi di daerah yang agak tinggi sehingga mendapatkan sinar matahari yang lebih dibandingkan pos lain. Melihat kondisi pos ini yang agak gersang, kami tidak mendapati komunitas pohon tinggi seperti yang kami dapati di pos-pos sebelumnya. Sehingga pos ini lebih didominasi oleh tanaman-tanaman jenis semak dan berukuran kecil, dengan daun yang mayoritas berbulu dan batang bergetah.

  1. Aspek Zoologi

Dalam perjalanan kami ke Pos Genetika, Mikrobiologi dan Botani, hewan yang sering kami temukan adalah Julus nomerensis (kaki seribu) berwarna hitam.

Julus termasuk dalam Kelas Diplopoda, Julus hidup di tempat yang lembab dan gelap dan banyak mengandung tumbuhan yang telah membusuk.

Hewan ini memiliki Tubuh berbentuk silindris dan beruas-ruas (25 – 100 segmen) terdiri atas kepala dan badan. Setiap segmen (ruas) mempunyai dua pasang kaki, dan tidak mempunyai “taring bisa” (maksiliped). Pada ruas ke tujuh, satu atau kedua kaki mengalami modifikasi sebagai organ kopulasi. Pada kepala terdapat sepasang antena yang pendek, dua kelompok mata tunggal. Respirasi dengan trakea yang tidak bercabang. Alat eksresi berupa dua buah saluran malphigi.

Kemudian ketika kami mencari sample tumbuhan saat berjalan ke arah pos Lingkungan Dan Kelautan, kami menemukan banyak daun tumbuhan yang berlubang. Dan pada saat meninggalkan pos tersebut, kami mendapatkan seekor kumbang di atas daun yang mengalami kerusakan. Kami mengira kumbang tersebut merupakan Kumbang Pemakan Daun (Maleuterpes dentipes) dari Ordo Coleoptera dan Famili Buprestidae.

Kumbang dewasa umumnya menyerang daun-daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah dengan meninggalkan lubang-lubang bekas gerekan. Kumbang tidak menyerang daun-daun muda. Serangan berat mengakibatkan daun gugur dan ranting-ranting muda mati. Larva menyerang kulit akar muda sehingga tinggal bagian kayunya. Pada perakaran yang lebih tua serangan meninggalkan bekas lubang-lubang kecil.

Kemudian saat berada di Pos Zoologi, varietas hewan yang mendominasi adalah berbagai macam serangga. Seperti rayap, nyamuk dan serangga kecil lainnya. Ini karena dip Pos Zoologi banyak kayu lapuk yang lembab sehingga menjadi habitat terbaik bagi serangga kecil dan semut.

  1. Aspek Genetika

Genetika merupakan cabang biologi yang mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme. Bidang kajian genetika dimulai dari wilayah molekular hingga populasi. Secara lebih rinci, genetika berusaha menjelaskan material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik), bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan genetik).

Karena adanya ekspresi genetik yang berbeda, terdapat berbagai macam varietas dari jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan di lokasi hiking ini. Sebagai contoh saat berjalan ke Pos Genetika, kami menemukan Julus nomerensis (kaki seribu) berwarna hitam. Namun ketika berikutnya kami berada di Pos Mikrobiologi dan Pos Botani, kami menemukan Julus berwarna kuning. Kami juga sempat menemukan julus berwarna merah dalam perjalanan ke Pos Mikrobiologi.

  1. Aspek Mikrobiologi

Melihat keterbatasan peralatan kami, kami belum bisa menjelaskan secara detail aspek mikrobiologi di lokasi SPL ini. Namun secara umum, dapat dikatakan bahwa lokasi yang berlumpur dan lembab merupakan habitat yang baik untuk mikroorganisme. Saat hiking mulai dari pos Genetika hingga Botani, mikroorganisme yang paling mudah kami dapatkan yaitu Daphnia pulex. Karena ketika kami melakukan perjalanan, kami memutuskan terus melanjutkannya walaupun dalam keadaan hujan. Sehingga kaki kami yang terus terbungkus sepatu menjadi terus lembab dan basah yang kemudian memungkinkan Kutu air berkembang.

Daphnia seringkali dikenal sebagai kutu air karena kemiripan bentuk dan cara bergeraknya yang menyerupai seekor kutu.  Pada kenyataannya Daphnia termasuk dalam golongan udang-udangan dan tidak ada hubungannya dengan kutu secara taxonomi.  Daphnia merupakan udang-udangan renik air tawar dari golongan Brachiopoda.

Daphnia telah beradaptasi pada kehidupan badan perairan yang secara periodik mengalami kekeringan.  Oleh karena itu, dalam perkembangbiakannya dapat dihasilkan telur berupa kista maupun anak yang “dilahirkan”.  Telur berupa kista ini dapat bertahan sedemikian rupa terhadap kekeringan dan dapat tertiup angin kemana-mana, sehingga tidak mengherankan ketika dalam genangan air disekitar lokasi ditemukan Daphnia.

  1. Aspek Lingkungan dan Kelautan

SPL 2007 diadakan tepat saat musim penghujan sehingga tanah di lokasi SPL menjadi berlumpur dan lembab. Seperti pada Pos Genetika Zoologi dan Pos Mikrobiologi yang berada tepat di tengah sungai terusan dari air terjun kecil. Kawasan tanah lembab sendiri merupakan suatu kawasan “marsh” atau “fern”, kawasan yang berair sejak awal atau buatan, kekal atau sementara dengan air static atau mengalir (bergerak). Ekosistem tanah lembab yang sentiasa ditenggelami air ini merupakan satu ekosistem yang sangat istemewa. Dalam ekosistem ini lantai hutan ditutupi dengan dedaun ranting dan pokok-pokok mati, ini membuat permukaan tanah di kawasan ini lembut dan berlumpur.

Fungsi tanah lembab sendiri ialah sebagai jambatan penghubung yang menghubungkan ekosistem akuatik (air) dan terrestrial (darat) melalui kitaran berlanjutan air yang dihadang melalui darat, laut dan atmosfera. Proses penting air ini membantu mengawal kualiti dan kuantiti air serta mengekalkan fungsi system ekologi. Fungsi tanah lembab tersebut mewujudkan kawasan kehidupan bagi berbagai jenis tumbuhan dan hewan vertebrata.

Kemudian pada pos Lingkungan dan Kelautan yang didominasi oleh Pohon Jati. Pada pos ini kumpulan Jati seolah-olah menjadi hutan homogen, ini terjadi karena guguran daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat, sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Melihat kondisi yang seperti ini, lokasi Pos Lingkungan dan Kelautan memiliki kemungkinan besar untuk mengalami kebakaran. Hal tersebut karena .Guguran jati juga dapat memicu kebakaran yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak oleh banyak jenispohon lain. Namun, ternyata kebakaran hutan yang tidak terlalu besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati. Ini dapat terjadi ketika daerah itu beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan mudah terjadi dan sebagian besar jenis pohon akan mati pada saat itu.

Selain kebakaran, tempat pos Lingkungan yang berada di dataran tinggi memiliki kemungkinan untuk mengalami erosi tanah karena kumpulan Pohon Jati yang berbentuk hutan homogen. Tajuk jati rakus cahaya matahari sehingga cabang-cabangnya sulit bersentuhan. Perakaran jati juga tidak tahan bersaing dengan perakaran tanaman lain. Dengan demikian, serasah tanah cenderung tidak banyak. Tanpa banyak tutupan tumbuhan pada lantai hutan, lapisan tanah teratas lebih mudah terbawa oleh aliran air dan tiupan angin.

Pos Botani sendiri memiliki lingkungan yang sering berinteraksi dengan sinar matahari karena kurangnya pohon tinggi. Sehingga berbeda dengan tanah pos lain yang berlumpur dan lembab, pos Botani terkesan agak gersang.

  1. Kesimpulan

SPL merupakan bentuk awal pengkaderan HIMBIO Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin yang akan membentuk seorang kader dengan pola pikir cerdas, kreatif, dan cepat tanggap. Dan juga akan membentuk serta membina keakraban antara mahasiswa baru dan mahasiswa lama dengan saling bekerja sama dalam aplikasi ilmu biologi.

  1. Saran

Akan lebih baik jika setiap kegiatan Pra SPL yaitu berupa pengumpulan digunakan untuk hal-hal yang lebih penting dan bermanfaat untuk SPL. Karena kami merasa pengumpulan terlalu awal diadakan namun kegiatan penting baru dimulai saat pengumpulan beberapa minggu sebelum SPL. Selain itu, saat pengumpulan sebaiknya lebih dilengkapi dengan kegiatan mengasah kecerdasan peserta.

Lampiran

Gambar Sampel

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan : Plantae

Divisio      : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Lamiales

Familia : Verbenaceae

Genus : Tectona

Spesies : Tectona grandis

Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dan dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Memiliki daun yang lebar, yang luruh di musim kemarau. Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini berasal dari kata thekku dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis.

Pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18-20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Kulit batang coklat kuning keabu-abuan, terpecah-pecah dangkal dalam alur memanjang batang.

Pohon jati (Tectona grandis sp.) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter.

Pohon jati yang dianggap baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati terbaik biasanya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun.

Daun umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, dengan tangkai yang sangat pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, sekitar 60-70 cm × 80-100 cm; sedangkan pada pohon tua menyusut menjadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan getah berwarna merah darah apabila diremas. Ranting yang muda berpenampang segi empat, dan berbonggol di buku-bukunya.

Bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting; jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, 8 mm. Berumah satu.

Buah berbentuk bulat agak gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi umumnya hanya satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang melembung menyerupai balon kecil.

Jati menyebar luas mulai dari India, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Indochina, sampai ke Jawa. Jati tumbuh di hutan-hutan gugur, yang menggugurkan daun di musim kemarau.

Iklim yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu panjang, dengan curah hujan antara 1200-3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 – 700 m dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl.

Tegakan jati sering terlihat seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan hanya terdiri dari satu jenis pohon.

Apabila terjadi kebakaran lahan di daerah beriklim muson yang begitu kering, kemudian sebagian besar jenis pohon mati. Tidak demikian dengan jati. Pohon jati termasuk spesies pionir yang tahan kebakaran karena kulit kayunya tebal. Lagipula, buah jati mempunyai kulit tebal dan tempurung yang keras. Sampai batas-batas tertentu, jika terbakar, lembaga biji jati tidak rusak. Kerusakan tempurung biji jati justru memudahkan tunas jati untuk keluar pada saat musim hujan tiba.

Guguran daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat, sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Guguran itu juga mendapat bahan bakar yang dapat memicu kebakaran yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak oleh banyak jenis pohon lain. Demikianlah, kebakaran hutan yang tidak terlalu besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati.

Tanah yang sesuai adalah yang agak basa, dengan pH antara 6-8, sarang (memiliki aerasi yang baik), mengandung cukup banyak kapur (Ca, calcium) dan fosfor (P). Jati tidak tahan tergenang air.

~ oleh hildayani pada Juni 12, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: